Gaza menangis, gaza sedang menjerit, awan kelam tersenyum kecut di atasnya. Muslimin di dalamnya pun berontak. Semenjak Gaza diduduki HAMAS Juni 2007 lalu, Israel laknatullah terus meng-anak tirikan Gaza. Blokade yang dilakukan negara Yahudi hina itu membuat insan-insan di Gaza harus melakukan sesuatu agar hidupnya tetap berlangsung. Konon, angka kemiskinan di Gaza saat ini mencapai 57 % dan kebutuhan pangan yang tersedia hanya mencukupi sebanyak 37 % penduduk. Tidak kuat dengan keadaan, alhasil, dua pekan lalu, pagar perbatasan Gaza dengan Mesir dibuat runtuh oleh dua pejuang “bertopeng” HAMAS. Namun, hanya dua hari saja ikhwah-ikhwah di Gaza merasakan kebebasan. Hanya 48 jam saja mereka bisa mencari bahan makanan penyokong kehidupan. Setelah itu, pemerintah Mesir menambal kembali blokade besi yang dijebol tadi. Ikhwah fillah… Gaza kembali diliputi awan kelam.
Ini adalah salah satu dari sejuta cerita suram yang terus menghantui Palestina. Sebuah kisah yang membuat pembacanya penasaran bagaimana fragmen ini akan berakhir. Sebuah drama yang penontonnya bisa menangis tersedu-sedu melihat kemeranaan penduduknya. Sebuah saga yang membuat hati bergelora ketika mendengar banyak pejuangnya syahid digempur helikopter Apahce. Ada sebuah pertanyaan yang senantiasa menyelimuti benak kita. Apa yang bisa kita lakukan ? Terdiam dan terpaku membaca kisahnya ? Hanya tercengang dan duduk manis menonton dramanya ? Ataukah sebatas aksi simpati yang terekspresi dalam hati ketika mendengar saga-nya yang penuh heroik itu?. Ikhwah fillah…. itulah bentuk kemampuan terkecil kita dalam menanggapi kedukaan di Palestina. Sebuah respon minimal atas stimulus informasi duka yang masuk melewati indera kita. Namun, meskipun berharga, aksi mini ini ternyata belum cukup untuk bisa merubah keadaan di negeri para anbiya’ itu.
Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat kaum muslimin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaanNya” (QS An-Nisa 84)
Ikhwah fillah, apa yang terjadi di Palestina bukan hanya sekedar persengketaan antara dua agama (Islam dan Yahudi jahannam), bukan pula hanya sekedar konflik perebutan tanah, namun ini sudah menyentuh problem kemanusiaan. Apakah bisa dikatakan manusia, jika warga sipil yang jelas-jelas tidak mengangkat senjata, tega dibombardir dengan roket pemusnah, ya… roket pemusnah, bukan pistol, bom atau bahkan sebilah pisau. Apakah bisa disebut manusia beradab, jika yang semula mereka mengusung sebuah perjanjian damai, malah mereka sendiri yang melanggar dengan menyerang pemukiman warga. Benar sekali, ternyata label bertulis “manusia” telah luntur dari hati pejabat hingga tentara militer negeri zionis terkutuk itu. Dan manusia di belahan bumi lainnya ada juga yang tertular virus ini. Sebuah penyakit defisiensi kemanusiaan. Jika kita masih merasa menjadi hamba Allah dengan fitrah kemanusiaannya, sudah saatnya langkah nyata terealisasikan.
Hanya beberapa contoh yang bisa diungkap di tulisan sederhana ini. Setidaknya menjadi referensi pelengkap dalam “jihad fi filistin” yang telah kita jalankan.
Boikot produk yahudi memang telah menjadi aktivitas favorit kita selama ini. Kegiatan dalam rangka menekan profit bangsa zionis, sehingga anggaran perang terhadap muslimin palestin juga ikut berkurang. Aksi ini terbukti paling mudah dilakukan dan efeknya cukup nyata pula. Harapan ke depan, aksi boikot ini tetap bisa lestari, tidak hanya di kalangan aktivis dakwah tetapi juga menjamur di seluruh umat muslim, yah.. minimal di keluarga kita. Sambil memberikan informasi duka Palestina ke kerabat, juga kita tularkan rasa simpati demi saudara muslim di Al-Quds. Semakin banyak muslim yang mendukung aksi peduli Palestina, semakin dekat kemenangan itu tiba. Simaklah petuah dari baginda Rasul berikut ini:
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka akan selalu menang hingga (menjelang) hari kiamat” (HR.Muslim).
Perlu diketahui, krisis di Palestina ternyata juga merupakan akibat dari banyaknya kaum muslim yang hatinya buta, penuh hawa nafsu, hatinya dilimuti dengan kerak dan membuat mereka diam terhadap kedukaan Palestina. “Maka janganlah kamu turuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula padamu) .” (Al Qolam 8-9)
Siapa yang menyangkal bahwa bangsa zionis ini adalah bangsa dengan kualitas unggul. Siapa pula yang meragukan intelektualitas bani Israil di muka bumi ini.
Benar, kita harus belajar banyak dari mereka (baca:bangsa zionis). Tentu saja dalam urusan pengetahuan dan kecerdasan. Sungguh kontradiksi sekali ketika tentara dengan seragam pelindung lengkap mengarahkan AK-47 versi terbaru dihadapan seorang pejuang yang hanya bersenjatakan ketapel. Sungguh ironis sekali ketika pesawat MIG-29 dihadapakan dengan meriam kecil bekas, entah ada pelurunya atau tidak. Tidak hanya itu, dengan ilmu pengetahuan, mereka telah menguasai keuangan dunia, menjadi pengaruh yang kuat di kancah perpolitikan dunia. What can we do ?.. Apakah kita akan tetap melestarikan hobi kita turun ke jalan, berteriak-teriak, berkoar-koar, entah tentang solusi syariat ataupun sebatas kesimpatian. Sementara di Tel Aviv, New York, dan London, remaja-remajanya asyik bereksperimen, meneliti, duduk serius di kursi perpustakaan, berdiskusi ilmiah untuk menemukan teori ekonomi jitu , untuk menciptakan senjata baru, dan untuk istiqomah belajar budaya-budaya kaum muslimin dalam rangka menghancurkannya.
Ikhwah fillah.., belajarlah banyak dari orang-orang zionis laknat itu. Sudah saatnya ilmu pengetahuan kita bermanfaat dalam kebangkitan umat Islam. Mungkin inilah waktunya kita kembali serius dan peduli terhadap bidang keilmuan kita. Kita belajar tidak hanya sebatas sebagai persiapan UAS, atau untuk menghindari IP dibawah 2,00. Islam butuh profesor ekonomi yang siap menguasai keuangan dunia. Islam butuh guru besar teknik yang mampu menciptakan teknologi canggih. Islam butuh dokter spesialis yang akan menjadi pengobat korban-korban perang kebiadaban Israel. Jika itu masih terlalu tinggi, sebisa mungkin ilmu yang kita tuntut selama ini bisa turut andil dalam kebangkitan Islam, demi kemenangan Palestina saudaraku. Setidaknya ini jauh lebih kongkrit ketimbang menaruh gantungan kunci bendara Palestina di tas kita, memajang stiker HAMAS di meja belajar kita, atau turun ke jalan sambil memaki George W. Bush dan Ehud Olmert. Sekali lagi mari kita kembali peduli pada bidang keilmuan kita.
Ada sebuah pertanyaan yang pasti bisa kita jawab dengan mudah. “Siapakah yang memberi kemenangan atas muslimin di Palestina?”. Tak kurang dari 5 detik semua pasti serempak dengan jawaban : Allah Swt.. Benar ikhwah fillah. Yang menjadi time keeper penentu kapan Palestina akan benar-benar merdeka adalah Allah azza wa jalla. Bahkan Dia telah berjanji dalam firmanNya:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhloi-Nya untuk mereka, Dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa…” (An Nur 55)
Jika kemerdekaan Palestina juga merupakan kemenangan umat muslim sejagat raya ini, maka muslim seluruh dunia telah menjadi aktor protagonisnya. Kemudian, yang menjadi petanyaan super-berat ialah : “Apakah saat ini umat muslim telah pantas atas kemenangan itu..?”. Perhatikan wahai akhi-ukhti, Allah hanya berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh saja, bukan kepada selain itu. Lantas, sudahkah kita termasuk yang mengadakan kontrak kemenangan itu kepada Allah ?, sudahkah kita benar-benar beriman ?, sudahkan kita terbiasa melaksanakan amal saleh tanpa ada setitik niatpun selain meraih keridhloan Allah ?, sudahkah kita meninggalkan hobi maksiat kita ?. Wahai aktivis dakwah, ini mungkin yang menyebabkan kenapa selama ini Palestina terjerembab dalam jurang kedzaliman.
Allah masih belum rela kemenangan itu dilimpahkan kepada kita kaum muslimin yang masih berlumur dosa, masih diliputi kedengkian dan kesombongan. Bagaimana siap menerima award dari Allah, ternyata sholat Subuh kita masih di atas jam lima. Bagaimana mungkin Islam akan berjaya, ternyata detik-detik kita belum terhiasi dengan dizkrullah. Bagaimana Palestina akan free, ternyata kita masih belum tahu makna bahasa Qur’an. Dan bagaimana mungkin Yahudi bisa colaps, ternyata kita belum sepenuhnya rutin untuk sholat Lail
Ikhwah fillah, mari kita amalkan semua ilmu yang kita raih saat TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi hanya untuk kemajuan Islam, hanya untuk kebangkitan Islam. Mari kita ajak saudara-saudara kita untuk berempati atas kedukaan Palestina. Mari kita me-reformasi diri kita ke arah lebih baik dengan amalan-amalan saleh kita. Dan, mari kita hiasi malam-malam kita dengan tangisan doa atas syuhada-syuhada di Al-Quds. Ini mungkin bisa mengimbangi jerih payah mujahid-mujahidah di Palestina. Lakukan, apa yang bisa segera kita lakukan untuk agama ini. Selamat melakukan.
Wallahua’lam bi showab. (Fzl)
Silahkan Sharon dan kawan-kawannya meneruskan apa yang mereka inginkan di sini, kami akan tetap meneruskan perjuangan ini. Jalan yang kami lalui ini memang berat. Namun, inilah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kami semua kepada cita-cita kami (surga). Di atas dasar ini kami sekali-kali tidak akan lemah, tidak akan menyerah, dan tidak akan menghina diri kami sendiri (dengan menyerah kalah kepada Israel).
Kita akan mati juga satu hari nanti, entah disebabkan oleh Apache ataupun sakit jantung (yang pasti kita semua akan mati). Dan saya memilih mati dibom oleh Apache (Israel). (Abdul Azis Ar-Rantisi)