Oleh: rizkiwicaksana | Januari 13, 2008

Catatan Awal Tahun USC

Momen pergantian awal tahun mungkin dirasakan manis oleh beberapa orang karena dalam tahun yang baru maka diharapkan adanya sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Namun hal itu ternyata tidak hanya dirasakan orang umum saja namun juga usc. Bukan karena merayakan tahun baru tapi karena usc baru saja melaksanakan rapat kerja untuk menyongsong tahun 2008. Membuat program yang dirancang untuk kemajuan dakwah di tahun yang baru.

            Namun untuk tahun baru ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh barisan dakwah karena masalah itu bersal dari pemuda-pemuda kita, terutama yang berada di Surabaya. Fenomena yang nampak adalah pada saat perayaan tahun baru. Ketika setelah pulang dari acara kajian tentang refleksi akhir tahun oleh ustadz zubairi, tepatnya pukul 23.30 malam, dari sepeda motor bebek yang saya kendarai saya dapati pemuda-pemuda dengan baju hitam rambut dicat dikit kemudian motornya dibleyer greng…greng…greng sambil memegang rokok ditangan kirinya dan ada juga yang ditaruh diatas telinganya. Pemuda-pemuda itu menghalangi kendaraan dibelakangnya untuk lewat dan terus membleyer yang menjadi parah adalah tidak hanya ada anak cowok saja tapi cewek juga banyak yang dibonceng atau mengendara sendiri. Wah miris sekali ya…dan yang luebih menusuk hati itu jumlahnya tidak sedikit tapi saya mengamatinya mulai jalan kertajaya sampai rute mayjend sungkono dan masih banyak model lain diluar itu yang tumpah ruah membanjiri kota Surabaya di gemerlapnya tahun baru. Mungkin itu adalah salah satu masalah besar yang harus dihadapi bangsa ini selain munculnya bencana yang datang menghantam bertubi-tubi. Gambaran itu sedikit membuat saya luntur semangat dan berkata dalam hati, ”Ya Allah bagaimana kami bisa mengatasi orang sebanyak ini?” ya jika sendiri tentu saja sulit maka dari itu kita diharapkan dapat bekerja secara amal jama’i.

            Diantara bayang-bayang kesedihan tiba-tiba teringat akan  ayat yang ada di al-quran yang memeberikan semangat laksana dinginnya tetesan salju yang memadamkan api kesedihan. Yakni QS. al-baqarah 249.

 NŸ2 `ÏiB 7pt¤Ïù As#ŠÎ=s% ôMt7n=xî Zpt¤Ïù OouŽÏWŸ2 ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇËÍÒÈ Artinya: “…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” 

Itulah ayat yang kembali memberikan kukuatan kepada kita untuk tetap berazam nan selalu bejuang di jalan kebaikan meskipun jumlah orang yang muslikh itu sedikit. Dan Allah akan membuktikan janji-Nya jika kita termasuk orang yang sabar. Sabar disini bukan berarti diam tanpa melakukan apa-apa namun setelah berusaha sungguh-sungguh apapun hasil yang diberikan Allah tetap kita terima dengan persaan husnudzon. Mungkin kemenangan kita ditangguhkan untuk waktu berikutnya.

            Ikhwah fillah, jika masalah itu datang dari pemuda terutama pelajar lebih-lebih yang berada di Surabaya, maka salah satu jawabannya adalah Uswah Student Center. Meski banyak solusi yang sebenarnya harus diusahakan dari berbagai elemen umat ini. Oleh karena itu Uswah harus tetap tumbuh dan melaju ditengah badai derasnya badai demoralisasi moral, hingga dunia ini bisa menyapa kembali sinar mentari kebaikan.

            Marilah sejenak kita simak ungkapan Hasan Albana tentang perhatiannya yang begitu mendalam kepada pemuda (ilasy syabab).

Tiada sesuatupun yang membuat kami Bersikap seperti ini selain rasa cinta Yang telah mengharu biru hati kami Menguasai perasaan kami, Memeras habis air mata kami dan mencabut rasaIngin tidur dari pelupuk mata kami,…

Dengan hadirnya kita dalam barisan ini, mungkin bisa menandakan seperti itu pula rasa cinta kita kepada pemuda-pemuda umat ini, harapan kita terhadap lahirnya generasi-generasi gemilang. Maka dari itu barisan ini (Uswah Student Center) harus mempunyai bekal untuk menyelamatkan para pemuda kita, dimana masih menancap kuat di pikiran dan hati kita bahwa desember lalu kita baru saja merencanakan program-program guna mengoptimalkan dakwah kita di tahun yang baru. Berkaitan dengan bekal tersebut, menurut pendapat saya ada beberapa point yang harus dicermati antara lain:

*      Kesolidan Wajihah

Seseorang tidak akan bisa mengatur orang lain sebelum dia bisa mengatur dirinya sendiri. Seperti itu pulalah seharusnya wajihah kita, sebelum terjun lebih jauh seharusnya terlebih dahulu kita menjadi wajihah yang professional, mempunyai jaringan dana, punya SDM unggulan, terlaksanaknya program-program hingga mempunyai secretariat yang memadai. Hal tersebut harus terpenuhi agar kita siap menerima kemenangan yang diberikan Allah. Mungkin tiba-tiba diknas mengajak kita sebagai mitra kerjanya untuk perbaikan pemuda di Surabaya eh kita tidak siap dana programnya macet atau mungkin SDMnya tidak ada yang mengerjakan dengan alasan kuliah dsb. Sedangkan wajihah/lembaga itu menjadi sangat penting untuk sarana amal jama’I kita.

*      Melayani untuk mendakwahi

Saya baru tersadarkan setelah membaca bukunya mas salim yang Saksikan Bahwa aku seorang muslim. Ternyata dalam dakwahnya rasulullah saw meletakkan pelyanannya sebelum dakwahnya pada saat merekrut orang madinah yang akan masuk islam pada saat berbaiat di aqabah yang tertuan dalam Q.S al balad ayat 10 sampai 16. Dimana Rasulullah menjajikan akan mengupayakan penghapusan perbudakan,  kelaparan serta kemiskinan dalam islam.Dan itu cocok sekali diterapkan untuk orang-orang yang masih ammah. Maka kita juga patut untuk menirunya dan mungkin sudah dilaksanakan oleh DPP ya ataupun divisi yang ada nama riayahnya. Tinggal bagaimana kita mengoptilkan HOW TO nya.

*      Kesungguhan dalam Pembinaan

Kepada saya, dan kepada aktivis dakwah terutama para murobbi dan murobbiyah dakwah sekolah, pahamilah bahwa Allahlah yang telah menitipkan para pemuda itu dalam halaqoh kita bukan uswah ataupun guru agama, jadi kita harus sungguh-sungguh memelihara titpan Allah tersebut. Kita berangkat ke sekolah tidak hanya formalitas nigisi materi tapi disana kita mencetak kader, kita tak hanya bertegur sapa tapi kita jalin ukhuwah dan berikan manisnya tabiyah kepada mereka sebagaimana manisnya tarbiyah itu telah diberikan kepada kita agar binaan kita tidak mudah hilang dan tetap terpelihara hingga kita akan punya 5000 binaan nantinya. Kita juga harus mengupgrade diri agar dakwah kita pada binaan kita lebih baik rajin menghadiri forum mentor, mengikuti SekMenBi dengan baik ataupun tidak enggan mengumpulkan data binaan tepat pada waktunya. Karena begitu banyaknya keutamaan seorang murobbi yang termuat baik dalam qur’an dan hadist, maka hendaknya kita metakkan prioritas halaqoh kita diatas amanah-amanah dakwah kita yang lain, misalnya kita mengerjakan aktivitas di uswah dengan serius mengerjakan ini itu tapi kita kurang memperhatikan halaqoh kita,  tentu saja tanpa mengurangi keseimbangan terhadap keprofesionalitasan karena seimbang itu adalah menempatkan sesuatu sesuai kadarnya. Sekali lagi,  harus kita pahami bersama bahwa inti dakwah kita ada pada tarbiyah islamiyah dalam halaqoh kita.

      “Barang siapa mengajak pada petunjuk maka dia akan mendapat kebaikan/phala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahal orang yang diajaknya” (HR. Muslim). 

*      Tetap pada Asholah kita

Salah karakteristik islam adalah tsabat terhadap pokok-pokoknya dan murunah terhadap metodenya. Jadi apapun metode yang kita lakukan dalam menghadapi kondisi yang carut marut ini hendaknya kita tetap berada pada manhaj kita yaitu berpedoman pada Al-Qur’an, As-sunnah dan para salafus shalih. Yang seharusnya kita upayakan adalah bagaimana menjaga  kesimbangan antara keghurobaan kita dangan sikap adaptif  dakwah kita dengan  kondisi saat ini. Karena menurut Ustadz Anis Matta dakwah tidak cukup meliki syarat benar saja tetapi juga tepat dan keduanya harus senantiasa berdampingan.

 “Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahma.”t (QS.Al imran :132) Jika kita ingin golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak Maka hendaknya kita bersama bersungguh-sugguh untuk memenuhi point-point kemenangan tersebut dan selalu bersabar ata apa yang telah kita usahakan. Ada pepatah arab (bukan hadist) yang mengatakan “Al khayatu bittamanni walaisattamanni illa bil jiddi ” (kita hidup dengan pemberian dan takkan ada pemberian melainkan dengan kesungguhan) Jika kita benar menginginkan kemenagan yang akan diberikan Alllah maka kita kita juga harus bersungguh-sungguh mengusahakan point-point kemenanganya. Selamat bersungguh-sungguh!(Qq)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.