Oleh: rizkiwicaksana | Januari 5, 2008

TELADAN SEBELUM BERDAKWAH

Kita semua yang ada di sini sedang hidup di jalan dakwah. Dimana dakwah itu pernah dimulai dan takkan pernah diakhiri melainkan hingga kita telah sampai pada haribaan mardhatillah dan kenikmatan surganya. Orkestra dakwah ini tidak hanya memberikan pencerahan, petunjuk dan kebahagian kepada kita tetapi juga telah mengajarkan kita untuk tetap bertahan dan berjuang menerjang onak dan duri di setiap likunya. Dari kemenangan dakwah ini kita cita-citakan sebuah harapan besar…ya…kembalinya kejayaan islam yang dipikul oleh generasi-generasi robbani umat ini. Dibalik sebuah harapan besar, maka lahirlah sebuah usaha besar pula untuk mencapai kesana. Maka salah satu usaha tersebut adalah menata kembali kesempurnaan dakwah kita agar menjadi lebih baik.

Sesungguhnya yang harus kita pahami terlebih dahulu bahwa hal yang terpenting dalam dakwah ialah sebuah keteladanan. Sebagaimana yang ditulis oleh Said Hawa, bahwa kaidah dakwah yang paling utama adalah AlQudwah Qobladda’wah yaitu teladan sebelum berdakwah. Maka pada tulisan ini salah satu kaidah yang harus kita tata lagi adalah keteladanan kita dalam berdakwah. Hal itu digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana keteladanan beliau telah membuat cahaya islam ini menerangi seluruh penjuru dunia dan menjadikan beliau sebagai orang nomor 1 di dunia.

Allah berfirman, ” Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]. Ditanya Ummul Mukminin Aisyah tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menjawab kepada yang bertanya : “Wahai anak saudaraku, apakah kamu telah membaca Al-Qur’an ?” dia jawab : “Ya”. Lalu beliau berkata : “Akhlaknya Rasulullah adalah Al-Qur’an”

Oleh karena itu akhi/ukhti, kita yang telah diberi Allah amanah sebagai punggawa dakwah di USC, di unit sekolah ataupun sebagai murobbi & murobbiyah hendaknya kita harus mejadi contoh teladan yang baik bagi objek dakwah kita (mad’u dan binaan kita) dan menjadi teladan pada diri kita, karena jika tidak demikian maka dakwah kita akan menjadi bencana bagi kita dan tidak mendapatkan orang yang mau mendengarnya.

Keteladanan adalah kekuatan pesan moral terbesar. Maka apabila da’i berdakwah dengan keteladanan maka khasanah ilmu yang diberikan akan meluncur laksana anak panah hidayah yang menancap tepat pada jantung hati mad’unya. Keteladanan bagi pemegangnya adalah kemulian, dan keberkahan bagi sekelilingnya.. Ibarat buah mangga yang jatuhnya tidak pernah jauh dari pohonnya, maka seperti itu pulalah gambaran seorang murobbi/murobbiyah terhadap binaannya. Maka jika kita ingin tilawah binaan kita baik maka tilawah kita juga harus baik, jika kita ingin binaan kita jadi kader militan maka kita harus menjadi orang-orang yang juga selalu memenuhi panggilan-panggilan dakwah, jika kita ingin binaan kita tidak terlena dengan dunia maka kita juga harus menjaga diri kita dari segala godaan dunia dan hal yang bersifat sia-sia.

Namun semakin tinggi suatu pohon maka semakin kencanglah angin yang menerpanya sebagaimana kita seorang da’i maka syetan yang mennggodapun sekelas da’i. Jika kita tergoda maka dengan mudah kita akan melakukan hal-hal maksiat yang tidak sesuai dengan ucapan kita. Maka seorang da’i hendaklah menghindari sifat-sifat munafik yaitu mengerjakan apa yang telah ia larang dan tidak mengerjakan apa yang ia serukan. Agar tidak menjadi seperti judul bukunya Fathi Yakan -–Robohnya dakwah di tangan da’i– Maka Allah telah mengingatkan dalam Al-qur’an yang Artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [Ash-Shaff : 2-3]. Semoga allah melindungi kita dari perbuatan tersebut.

Jika kita mencoba menyelami samudra tarbiyah, maka proses tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi tilawah (membacakan), tazkiyah (mensucikan diri) dan ta’lim (mengajarkan) sebagaimana friman Allah dalam surat [al-baqarah :151]. Oleh karena itu perlunya meluruskan pemahaman kita terhadap hakikat keteladanan, keteladanan bukan berarti menunggu seorang itu alim atau baik terlebih dulu baru berdakwah kepada orang lain atau harus menunggu menjadi seorang ulama/syaikh dulu baru berdakwah. Pendapat tersebut agaknya tidak begitu bijak. Tetapi keteladanan yang dimaksud disini adalah melakukan perbaikan pada diri seraya megajarkan kebaikan tersebut pada orang lain.

Sebagai manusia yang punya begitu banyak keterbatasan, kita megalami kelalaian -kelalaian dalam mencapai keteladan tersebut. Oleh karena itu seorang da’i harus memiliki tadkhiyah dalam menjaga keteladanannya tersebut. Ia rela memotang jatah tidurnya untuk mendirikan sholat malam, rela mengurangi hiburannnya untuk senantiasa mengupgrade diri serta rela meminimalkan senda guraunya untuk mencurahkan segenap pikirannya pada kepentingan dakwah. Selain itu perlunya sebuah bi’ah (lingkungan) yang berendakan bahtera kabaikan di sekitar kita. Maka ingatkanlah dengan bijak saudara kita bila ia lalai ataupun berbahagialah jika kita yang dinasehati karena kesalahan kita karena hal tersebut menandakan bahwa saudara kita masih menyayangi kita..

Akhi/Ukhti optimislah bahwa kita bisa menjadi seorang da’i yang teladan. Karena dien ini hanya akan dipikul oleh orang-orang yang bertekad baja. Di kiri kita ada saudara dengan hamasa yang membara, di kanan kita ada murobbi/murobbiyah kita dengan wajah yang bersahaja, di belakang kita ada orang tua yang selalu mendoakan kita menenangkan badai agar tetap tegar kita berjalan nanti, dan di depan kita ada wajah ceria binaan kita yang merindukan uluran kelembutan cahaya islam.

Sebagai penutup, tahukah antum bahwa wajihah kita bernama Uswah Student Center. Uswah berarti teladan. Maka kita sebagai anggota uswah harus menjadi uswah pula yang mencerminkan nama wajihah kita, yang kita cintai bersama yaitu USWAH STUDENT CENTER.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.