Daun-daun yang berserakan
Itulah gambaran mungkin yang cocok dalam mencerminkan kondisi umat islam kita sekarang. Tiap-tiap umat seakan berdiri diatas daratan-daratan yang berbeda seolah olah tidak bisa disatukan lagi sebagimana pohon pada mulanya. Warna perpecahan telah memberikan noda besar dalam tubuh persatuan umat ini. Secara umum tiap-tiap umat ini berjalan sendiri-sendiri meskipun terarah pada tujuan yang sama yaitu mewujudkan kembali kejayaan islam. Sebagaimana ekor cicak yang teputus dari badannya, pada mulanya ekor itu akan bergerak-gerak secara aktif namun lama-lama akan berhenti karena tidak mendapat suplay dari tubuhnya, ataupun ekor yang telah terputus itu hanya akan dijadikan umpan cicak yang digunakan untuk mengelabui mangsanya. Hal itu pulalah yang tergambar pada seorang muslim apabila ia tidak hidup dalam kebersamaan dengan muslim lainnya atau yang kita kenal dengan istilah jamaah. Sebagaimana ekor cicak tadi, seorang muslim yang berjalan sendiri pada awalnya akan bersemangat di awal namun lama-lama akan loyo bahkan sampai berhenti ataupun ia hanya akan menjadi mangsa pihak-pihak yang ingin meruntuhkan jamaah islam ini. Oleh karena itu jamaah menjadi sebuah alat yang tepat untuk menyatukan potensi-potensi umat islam yang berserakan ini menjadi sebuah kekuatan besar untuk mencapai tujuan bersama.
Menghimpun daun-daun yang berserakkan
Untuk mencapai sebuah jamaah kita harus mampu mengumpulkan potensi-potensi umat islam. Para orang shalih dari umat ini yang diharapkan menjadi penggerak terbentuknya kesatuan umat ternyata tidak bisa disatukan melainkan hidup dengan jamaah-jamaahnya sendiri. Orang-orang shalih umat ini masih disibukkan dengan perdebatan mereka dalam masalah furuq, padahal masih banyak hal lain yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih missal : pembinaan pemuda kita , bagaimana menangkal gawzul fikri ataupun membangun rumah peradaban islam ini bersama-sama. Namun setidaknya hal tersebut tidak lebih buruk dibandingkan jika tiap-tiap orang islam harus berjalan sendiri-sendiri tanpa payung jamaah. Oleh Karena itu diperlukan rasa cinta yang harus dipupuk seorang muslim terhadap muslim yang lain, sehingga benih-benih ukhuwah bisa tersemai dalam hati setiap muslim. Rasa cinta yang menyemai ukhuwah inilah yang menjadi pilar berdirinya sebuah jamaah yang kokoh. Rasa cinta inilah yang membuat hati-hati umat ini terikat oleh akidah yang sama sehingga mereka akan mendehulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan sendiri. Sebagaimana ketika rasulullah telah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan anshar, pada saat itu Sa’id bin Rabi yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf, karena cinta bilau kepada Allah dan rasulnya serta kepada saudaranya tersebut, Sa’id bin rabi rela memberikan separuh hartanya dan satu istrinya kepada Abdurrahman bin Auf. Namun dengan bijak Abdurrahman bin Auf menolaknya dan hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Luar biasa sekali persaudaran umat islam di jaman Rasulullah saw. Bagaimana jika ukhuwah dan rasa kecintaan seperti itu terpupuk dalam umat ini maka bukan tidak mungkin jika islam akan menjadi jamaah yang solid dan kokoh dan terkumpulah daun-daun yang berserakkan itu dalam satu cakupan yaitu cakupan cinta.
Daun-daun yang berpola dan tersusun rapi
Dengan adanya persamaan tujuan, kepahaman satu sama lain, ukhuwah yang begitu indah sehingga menyatukan kita dalam satu cakupan cinta maka untuk mencapai kembalinya kejayaan islam, umat islam harus bekerja dalam sebuah kebersamaan dengan sistem yang integral yaitu melalui jamaah. Yang harus kita sadari bersama adalah bahwa tidak banyak yang bisa kita kontribusikan atau sumbangkan untuk islam jika kita tidak bekerja dalam jamaah. Oleh karena itu untuk menggapai cita-cita besar maka yang harus kita lakukan adalah melakukan perubahan dari mencintai bekerja sendiri kepada mencintai pola kerja secara jamaah. Dari awal kecintaan kita terhadap kebersamaan (amal jama’i) inilah yang akan mengasilkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas perjuangan. Karena cinta adalah sebuah gejolak jiwa yang memberikan kekuatan luar biasa bagi pemiliknya. Cinta dapat membuat orang bodoh mnejadi pintar, membuat seorang penakut menjadi pemberani dan cinta juga mampu mengangkat derajat seorang budak menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah. Sebagaimana Bilal bin Rabbah karena kecintaannya terhadap Allah maka ia rela mendapat tindihan batu dan tetap mengatakan ahad..ahad..ahad hingga sekarang beliau menjadi sahabat yang dimuliakan dan dikenal generasi muslim hingga sekarang. Namun ternyata tidak mudah menumbuhkan rasa cinta kita pada amal jama’i ini. Oleh karena itu, kita memerlukan cara-cara untuk menumbuhkannnya ( beberapa dikutip dari bukunya Anis Mattta, Dari Gerakan Ke Negara) . Pertama, kita harus menyadari bahwa manusia diberikan keterbatasan oleh Allah maka kita harus menghilangkan anggapan bahwa sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya dia tidak boleh merasa lebih besar dari strtegi jamaah. Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa kekeruhan jamaah lebih baik dari kemurnian individu. Sehingga kita dapat menyebut diri kita sebagai bagian dari pencapaian tujuan jamaah. Kedua, kita harus menyadari sebagai seorang muslim yang berkomitmen, kita harus berorientsi pada karya. Sehingga adanya penyikapan tersebut dapat menanamkan semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dengan begitu kecintaan kita pada amal jama’i ini akan terus bertambah sebanding dengan kontribusi yang kita berikan. Ketiga, agar kita merasakan cinta dari jamaah ini maka yang hendaknya kita lakukan adalah bekerjasama walaupun berbeda. Dengan adanya perbedaan tersebut malah seharusnya kita manfaatkan untuk saling mengisi antara kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain. Apabila ketiganya dipenuhi maka kceintaan pada amal jama’i ini akan tertanam dan membuat kita hidup sebagai bagian dari jamaah, dimana jamaah itu laksana himpunan daun-daun ynag terpola.
Mewarnai dedaunan yang terpola
“Sesungguhnya Allah mecintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka sperti bangunan yang kukuh.” (QS. Ash-shaf : 4). Dari ayat itu kita dapat mengartikan bahwa kecintaan kita dalam hidup berjamaah akan mendapat balasan keccintaan Allah kepada kita. Dan refleksi cinta yang diberikan Allah kepada jamaah itu adalah sebuah hasil kerja yang efektif , produktif dan efisien. Namun ternyata untuk mendapatkan refleksi cinta Allah kepada jamaah kita itu dibutuhkan sebuah usaha yang harus dilakukan jamaah untuk mencapainya. Secara makro ada 2 hal yang harus dipenuhi yaitu manusia dan sistem. Pertama, jamaah tersebut harus memiliki sebuah sistem yang universal, teguh terhadap pokok-pokok dan tujuannya, relative pada metode yang digunakan dan mampu mempertemukan antara kebenaran dan ketepatan yang oleh umat muslim dinamakan sistem syariah yang berpedoman pada Qur’an dan Sunnah. Kedua, jamaah tersebut harus diemban oleh manusia-manusia besar dimana Hasan Al Bana memberikan karakteristik manusia-manusia besar dalam jamaah itu dengan sebutan arkanul bai’ah yang terdiri dari Kepahaman, Kikhlasan, Amal, Kesungguhan, Pengorbanan, Keetaatan, Keteguhan, Kemurnian, Ukhuwah dan Kepercayaan. Jika sudah memiliki 10 karakteristik itu sudah cukup untuk membuat kita menjadi prajurit yang besar untuk mendukung jamaah ini. Sehingga jamaah ini mampu mencapai tujuannya dengan hasil kerja yang efektif, produktif dan efisien serta menjadi seperti dedaunan yang terpola dan terwarnai.
Rasulullah bersabda : “Tangan Allah atas al jamaah” (HR. At-tirmidzi)
Menikmati hiasan daun terindah
Ketika rasa cinta dan apa yang kita usahakan terhadapa amal jama’i ini dibalas dengan refleksi cinta dari Allah dikarenakan kita telah memenuhi syarat-syaratnya maka saat itulah kita akan mengenyam hasil hiasan indah daun-daun yang telah kita kumpulkan, kita susun polanya dan kita warnai dahulu. Dimana kita telah merasakan sebuah efektifitas, produktifitas dan efisiensi kerja secara amal jama’i. Cita-cita luhur yang diimpikan umat ini akan segera terwujud. Gelombang perubahan akan muncul dari setiap penjuru dunia ini. Mulai dari hal yang kecil yaitu perbaikan individu, lalu perbaikan rumah tangga muslim, perbaikan masyarakat, pembebasan Negara, kemudian berdirinya daulah islamiyah hingga pada tegaknya khilafah islamiyah atau bahkan umat islam ini telah mengemban amanah sebagai sang ustadziatul alam (pengelola alam semsesta ini ). Maka itulah hari-hari terindah yang dirindukan umat ini, dimana islam akan tegak di seluruh pelosok bumi tanpa cercahan fitnah. Dan itulah kemenangan di dunia yang paling besar. Dan hal itu telah menjadi sebuah ketetapn Allah sebagaimana firmannya : ”Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash-shaf : 9). Sedangkan Balasan kita sebagai individu yang selalu mencintai amal jama’i sebagai wujud ketakwaan kita kepada Allah ini adalah balasan yang menjadi tujuan terakhir kita yaitu haribaan mardhatillah dan kenikmatan surgaNya. Dan kita pun kan dimasukkan kedalam surgaNya secara berjamaah pula sebagaimana firman Allah : “ Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (QS. Az-zumar :73).
Dan itulah hasil yang akan kita nikmati sebagai balasan cinta kita dalam kebersamaan (jamaah). Sehingga kita termasuk jajaran orang-orang yang produktif melalui cinta.