Andre Hirata (Ikal). Seorang remaja yang dibesarkan di sebuah daerah yang tidak begitu maju, Belitong. Ikal dididik dalam komunitas masyarakat yang sangat menjunjung nilai-nilai moral kehidupan. Bersama dengan kawan-kawannya, Arai, Jimbron, dan geng Laskar Pelangi, Ikal mengukir kehidupan dengan penuh perjuangan dan tentu saja plus pengorbanan. Ia rela menempuh jarak berkilo-kilo untuk menggapai impiannya bersekolah. Dan untuk mempertahankan hidup, bersama kedua temannya, Ikal pun tidak segan untuk menjadi kuli pelabuhan. Dan yang paling menakjubkan, mereka berhasil mewujudkan dream yang selama ini di angan-angan yakni kuliah di Perancis, dan keliling Eropa-Afrika. Ikal dan Arai mempertaruhkan segalanya atau mungkin bahkan jiwanya untuk itu. (Novel tetralogi Laskar Pelangi)Itukah pengorbanan..? Santiago Munez. Seorang pemuda imigran meksiko yang bertempat tinggal di Los Angles bersama ayah, nenek dan seorang adik. Santi memilik bakat luar biasa dalam bermain sepak bola. Kemampuan dribling yang ia miliki sungguh menunjukkan ciri khas sepak bola Amerika Latin. Impiannya adalah bermain di liga profesional. Santi dan keluarganya termasuk golongan strata bawah. Setiap hari ia membantu ayahnya menjadi tukang kebun keliling, dan ia juga nyambi sebagai pelayan di rumah makan Cina. Suatu ketika ada seorang ”pencari bakat” yang melihat skill Maradona dalam diri Santiago. Ia menawarkan untuk bermain di klub Inggris, Newcastle United. Hal ini membuat Santi menyiapkan segala sesuatunya, baik fisik maupun materi untuk menuju Newcastle. Meskipun impian Santi terhalang oleh ayahnya yang tidak suka sepak bola, ia terus korbankan waktu dan segala materi hanya untuk bermain sepak bola. Impiannya pun terwujud. Di Newcastle, ia menjadi pemain kunci kemenangan. Bahkan mengantarkan klubnya ke putaran final liga Champions. Namun, di tengah itu semua, kesuksesan Santiago dibayar mahal oleh meninggalnya sang Ayah. (Film GOAL).Itukah pengorbanan..? Uchiha Sasuke. Seorang ninja dari desa Hokage. Awalnya ia tergabung dalam sebuah tim bersama dengan kedua sahabatnya, Sakura dan Uzumaki Naruto. Mereka dibimbing oleh seorang murobbi ninja senior Kakashi. Sebagai sebuah tim, mereka menjalankan banyak sekali misi. Seiring berjalannya waktu, keterikatan ukhuwah mereka akhirnya pun terbentuk. Hingga datang sebuah peristiwa. Sasuke yang bertemu kembali dengan kakak kandungnya, Itachi, teringat dengan apa yang telah terjadi pada keluarganya di waktu ia kecil. Saat itu, oleh Itachi, seluruhnya dibantai tak tersisa, termasuk orang tua Sasuke. Bermaksud membalas dendam kepada Itachi, Sasuke rela mengorbakan apa saja asalkan ia mendapat kekuatan besar untuk membunuh Itachi. Termasuk meninggalkan timnya. (Serial komik Naruto)Itukah pengorbanan..? Ikhwah fillah, Segala pengorbanan yang kita ukir dalam hidup ini memiliki arti dan maksud tersendiri. Pengorbanan terhadap sesuatu impian yang ingin kita raih, impian yang telah lama diidamkan, impian yang akan merubah hidup kita, bahkan juga mungkin kehidupan orang lain. Pengorbanan ini sering dilakukan oleh manusia yang memiliki naluri tinggi. Jika di tawarkan kepada manusia ini, sebuah perjalanan ke bulan, mungkin dia akan menolaknya. Karena dia punya keinginan untuk pergi ke galaksi lain, tidak sekedar ke bulan. Apapun risikonya.
Pengorbanan untuk orang-orang yang berharga dalam hidup kita, orang-orang itu begitu berarti dan memiliki cerita klasik yang di mana ketika cerita itu diputar kembali, semangat untuk berkorban itu pun akan kembali berkobar. Pengorbanan ini membutuhkan sebuah perasaan yang bisa menggerakkan hati. Salah satunya adalah perasan memiliki (sense of belonging). Meskipun hati terluka dan remuk, demi orang yang paling dikasihi, rasa itu menjadi selezat ice cream connello rasa black forrest.
Pengorbanan yang lain yang tak kalah mengesankan adalah pengorbanan untuk mempertahankan hidup. Sebuah pengorbanan dalam rangka memperpanjang waktu paruh (T1/2) kehidupan di dunia. Ini barangkali pengorbanan dengan nilai taruhan tertinggi, karena tak lain dan tak bukan nyawa adalah yang akan menjadi pengambil keputusan, mati atau tetap hidup, meskipun nantinya akan mati. Ada banyak pengorbanan lain yang memiliki corak warna dan variasi tersendiri. Yang membedakannya adalah visi, apa yang dikorbankan dan dengan cara apa pengorbanan itu berlangsung. Visi Nabi Ibrahim kala itu, yakni ingin menjadi hamba Allah yang luar biasa tunduk dan patuh atas perintah-perintahNya. Yang dikorbankan tidak hanya sebuah nyawa Ismail kecil, namun lebih dari itu. Rasa cinta kasih yang menakjubkan kepada sang buah hati yang baru saja dicicipinya akan menjadi sebuah memori, hanya sebuah memori. Ikhwah fillah, kita berada pada segmen tersendiri di antara mozaik kehidupan ini. Segmen ini memiliki arti yang sangat penting. Jika segmen ini tidak terlengkapi dengan baik, mozaik kehidupan yang indah dan berpola tidak akan pernah bisa terwujud. Ibarat sebuah sel dalam jaringan tubuh. Kita berada pada bagian inti selnya. Ketika inti sel ini tidak menjalankan fungsinya dengan optimal, DNA/RNA yang diproduksinya pun tidak sesuai dengan fungsi metabolisme tubuh. Ini yang disebut dengan disease. Fatalnya, sel akan bermutasi dan potensial menimbulkan keganasan (cancer). Dan seperti yang telah terungkap di atas, kaplingan kehidupan yang kita pijak bersama-sama ini juga perlu yang namanya pengorbanan. Ya.., untuk merealisasikan agenda-agenda dakwah yang bejibun ini, kita butuh resep mujarab bernama sacrifice, At-tadhiyah, alias pengorbanan. Allah ta’ala berfirman,”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.(Al-Hujarat 15)Ikhwan wa akhwat fillah, tidak cukup dengan harta saja yang ”harus” kita korbankan untuk menggapai scudeto (kemenangan) dakwah ini, tapi jiwa kita juga dituntut untuk turut andil dalam kancah pengorbanan itu. Dan kedua pengorbanan itu hanyalah sebagian contoh dari pengorbanan-pengorbanan yang ada. Artinya, masih banyak kereta pengorbanan lainnya yang bisa kita tumpangi. Dan tentu saja menuju stasiun yang sama, yakni stasiun keridhloan Allah. Seorang ikhwah tidak akan pernah bisa sampai ke SMA 13 untuk mengisi mentoring tanpa ada bensin yang dikorbankan, tanpa keringat karena terik matahari, dan rela paru-parunya dimasuki CO (karbon monoksida) saat perjalanan. Be Smart yang begitu gempitanya tidak akan terlaksana jika panitia tidak memasang mental baja atas penolakan-penolakan sponsor, tanpa adanya kerelaan untuk meninggalkan kuliah, dan tanpa pengorbanan pulsa untuk menghubungi peserta, pembicara dan juri. Seluruh USC-crew tidak akan pernah bisa syuro di sekretariat andai kata tidak ada yang berkorban untuk mencarikan pinjaman uang demi menambal kekurangan biaya kontrakan.”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali ’Imron 142). Mungkin dari sini kita sepakat bersama bahwa, pengorbanan itu perlu atau bahkan harus, untuk meraih cita kita bersama. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah cara pengorbanan kita sudah benar?? Dan apa saja yang pantas kita korbankan untuk aksi teatrikal dakwah ini.?? Ikhwah fillah, mungkin halaman terberat dalam buku berjudul ”Contoh Pengorbanan Aktivis Dakwah” adalah pengorbanan kita untuk meninggalkan rutinitas atau kebiasaan duniawi kita yang tidak berorientasi pada stasiun ridhlo Allah. Berapa banyak dari kita yang masih asyik melestarikan hobi itu. Memang sangatlah susah merubah kemampuan menulis kidal menjadi kinan (menulis dengan tangan kanan). Tapi itulah rally hidup. Allah memberikan challenge kepada semua hambaNya untuk membedakan mana hamba yang gagal bersaing dan mana yang pantas dapat tiket masuk surga dengan fasilitas VIP. Pengorbanan kita untuk meninggalkan kebiasaan tadi akan melahirkan rasa manis pada iman kita. Seperti sabda Rasulullah, ”Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka ia telah merasakan manisnya iman. Tiga perkara itu adalah dia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain; mencintai orang lain hanya karena Allah; dan tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan kepada api (neraka).” (HR.Bukhari) Selanjutnya, bensin yang bisa menggerakkan gerbong kereta pengorbanan ini hanyalah Jihad atau kesungguhan. Berikut ada petikan tulisan dari Fathi Yakan dalam bukunya yang berjudul ”Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam”n Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang pipinya terluka ketika diterpa embusan angin dan jari jemarinya berdarah ketika tersentuh sutra. Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang takut dengan rizki dan nasibnya esok hari. Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang memiliki watak keras kepala, suka mengikuti nafsu, tidak lapang dada dan lemah. Tidak sabar dengan satu kata yang menyakitkan apalagi ancaman. Pikirannya tertutup dan tidak banyak mengerti, namun dia tidak mengerti kalau dirinya tidak mengerti. Begitu pula dengan orang yang sulit menerima pendapat yang diputuskan bersama dan enggan mengikuti pendapat jamaah. n Itulah jalan penyucian diri, menahan diri dan membersihkan diri. Jalan kasih sayang dan kepedulian. Jalan kesabaran dan keteguhan. Jalan totalitas dan kemuliaan. Jalan ketulusan dan keikhlasan.n Jalan yang memiliki karakteristik seperti ini mustahil dapat ditempuh, kecuali orang-orang beriman yang hatinya selalu tergantung kepada Allah dan jiwanya melihat kepada Dzat Yang Maha Esa.Ikhwan wa akhwat fillah, itulah jalan yang butuh kesungguhan, keteguhan dan keseriusan tak terkecuali keseriusan untuk berkorban. Pengorbanan yang kita lakukan atas orang-orang yang berharga dalam hidup. Di jalan dakwah ini, kita rela berkeringat, menangis dan bahkan berdarah untuk orang-orang yang kita cintai. Binaan-binaan di halaqoh kita, adik-adik di SMP-SMA kita, teman-teman seperjuangan di Gubeng Kertajaya, dan jangan lupa, keluarga kita. Orang tua kita, kakak-adik kita, suami/istri kita nantinya, anak-cucu kita. Mereka semua harus merasakan hasil manis dari pengorbanan kita. Sebagaimana rasa cinta Muhammad SAW kepada umat yang diekspresikannya hingga menjelang beliau wafat. Hasil manis dari ekspresi itu tentunya masih kita rasakan hingga detik ini. Karena apa..Karena kita adalah umat beliau, karena kita adalah saudara beliau. Lebih dari sekedar sahabat. Itulah tingkatan energi cinta yang dasyat dari putra Abdullah. Energi itu akan terus kekal hingga nanti kita bertemu. Ikhwah fillah. Di jalan pengorbanan, kita berbuat atas segala alasan mengapa kita harus mengarungi jalan itu. Di sana, kita juga memiliki impian yang tak kalah menegangkan dengan mimpi Ikal dan Arai untuk mengarungi Eropa-Afrika, tak kalah besarnya dengan Santiago Munez untuk bermain di Newcastle United, dan tak kalah dramatisnya dari hasrat Sasuke bertemu dengan kakaknya, Itachi. Kita semua pasti berangan ingin bisa menyeberangi Sidratul Muntaha dengan sukses, kita semua pasti berkeinginan untuk bisa bermain di surga Allah dan kita semua pasti memiliki impian besar bertemu dengan Allah dan RasulNya di hari akhir nanti. Benar ikhwah fillah, kita juga harus memiliki dream yang menakjubkan. Sebuah alasan mengapa kita harus berkorban di jalan ini.Ikhwah Fillah Rahimakumullah,,..Selamat bekerja keras. Selamat Berkorban.Wallahualam bi Showab.(Fzl)