Suasana kala itu begitu mengharu biru. Langit kesedihan menyelimuti hati setiap insan beriman. Hari itu, sang Utusan kembali pada Kekasih. Setelah beberapa lama berjibaku dengan sakit yang beliau derita. Akhirnya saat itu datang juga. Para sahabat seakan tak percaya bahwa mereka akan ditinggal pergi sang pemilik akhlaq terbaik. Bahkan sahabat sekaliber Umar r.a. pun harus disadarkan oleh Abu Bakar r.a. Ini memang suatu tepian sejarah yang mengguncang hati orang-orang mukmin. Dan sebelum beliau benar-benar menutup mata rantai kenabian untuk risalah yang diembannya selama kurang lebih 23 tahun, sebuah fragmen romantis tercatat apik dalam lembaran sejarah. Ketika itu, dengan sisa-sisa kekuatan yang beliau miliki, dan dengan nuansa kecintaan yang meliputi, beliau menyebut-nyebut “Ummati…ummati…ummati…”, sebelum akhirnya beliau meninggalkan dunia ini dalam pangkuan sang isteri, Ummul Mukminin, Aisyah radiyallahu ’anha.
Begitulah kira-kira penggalan episode terakhir dari sejarah kehidupan Rasulullah. Episode tersebut mengajarkan kepada kita setidaknya sebuah hikmah berharga. Hikmah yang terlahir pada momen krusial kehidupan. Hikmah yang termediasi takdir dan berhiaskan keterluarbiasaan emosional perasaan. Hikmah yang terkristalisasi dalam keagungan pribadi seorang utusan. Bahwa beliau, Rasulullah SAW, begitu mencintai umatnya. Ya, kita. Umat beliau. Kitalah yang beliau risaukan ketika hidup sampai di akhir perjalanan. Kitalah yang disebut-sebut di atas keperihan menghadapi maut.
Dan sampailah kita pada suatu simpulan, bahwa kita dapat dengan mudah mengkategorikan petikan sejarah tersebut sebagai salah satu indikator. Sebuah indikator kadar kecintaan beliau kepada umatnya. Meski sejatinya sudah terlalu kasat mata wujud kecintaan itu. Sebut saja goresan tinta emas peristiwa kenabian yang mencatat kesabaran beliau menghadapi perlakuan kaumnya. Maka cukuplah kisah kaum musyrik Tha’if menjadi bukti ketahanan beliau atas luka yang menganga. Bahkan kesabaran Jibril pun mencapai batasnya. Lantas beliau hanya berkata ”Ya Rabbi, ampunilah mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. Ya, gunung dan adzab tak jadi ditimpakan. Karena terhalang oleh kelapangan sabar sang utusan. Dan terhijab oleh kemurahan cinta sang manusia pilihan.
Begitulah seharusnya cinta mengambil peranan. Ia tidak hanya bergelora di alam jiwa namun juga produktif mendulang karya di alam nyata. Bergerak, senantiasa menyemai benih kebaikan tak terbatas untuk kemudian dituai kemanfaatannya. Cinta adalah energi yang membiarkan pemiliknya mengambil kekuatan tak terbatas darinya. Ia adalah telaga bening yang menyegarkan kehausan pengembannya. Serupa mata air yang memancarkan kebeningan dan kesegaran. Karena mencintai sesungguhnya berarti menebar manfaat. Layaknya mentari yang setia berbagi cahaya pada seluruh makhluk di bumi kita.
Belumkah cukup teladan yang diberikan oleh para Nabi dan Utusan? Atau para sahabat yang Rasul lukiskan layaknya gugusan bintang di malam hari, yang apabila kita mengambil salah satu dari mereka maka kita tidak akan tersesat? Bahkan mungkin orang-orang terdekat yang selama ini mendekap kita dengan cintanya? Maka kita tak lagi dapat mengelak. Permasalahannya bukan pada berapa banyak orang yang dapat kita jadikan teladan, atau peran apa yang telah mereka sumbangsihkan demi kebaikan pribadi kita. Namun permasalahannya adalah karena kita lebih sering buta. Ya, buta untuk melihat dengan jelas ketulusan cinta yang mereka persembahkan untuk kita. Buta akan gurat-gurat kelelahan wajah orang tua kita, yang siang dan malam beliau dedikasikan demi kita, anak-anaknya tercinta. Bahkan kita juga buta dan seakan tak mau tahu terhadap ayat-ayat cinta Allah SWT yang tertanam dalam tiap sel tubuh kita.
Jika itu belum cukup, mari tengok kembali potongan zaman terbaik dari sejarah umat ini. Ada banyak bintang yang dapat kita ambil sebagai petunjuk mengarungi kehidupan. Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha adalah blueprint wanita shalihah yang menyejarah sejak 14 abad silam. Kesetiaannya mendampingi sang suami menghadapi berbagai ujian dakwah ’memaksa’ Rasulullah SAW menganugerahi beliau sebagai sebaik-baik wanita, hingga disetarakan dengan Maryam binti ‘Imran. Ada sosok Saudah binti Zam’ah radhiallahu ‘anha. Beliau adalah istri Rasulullah yang menyempurnakan cintanya dengan pengorbanan merelakan giliran harinya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Begitu pula dengan ‘Aisyah dan segenap Ummahatul Mukminin, seluruhnya adalah cermin dan cahaya bagi setiap muslimah.
Di negeri kita, hari ini, masih ada manusia yang pantas kita titipi bangga dan cemburu, untuk selanjutnya kita imitasi dan inovasi. Ada Ustadzah Wirianingsih, seorang ibunda dari 11 orang anak hafidzul Qur’an. Motivasi dan konsistensi cinta yang beliau dan suami berikan pada anak-anaknya, pada akhirnya mengangkat mereka ke derajat tertinggi orang tua. Ada Ustadz Habiburrahman El Shirazy yang mengejawantahkan cintanya menjadi karya-karya penggugah jiwa. Petiklah tokoh Khairul Azzam yang ditulisnya dalam dwilogi novel penggugah jiwa Ketika Cinta Bertasbih. Betapa kerinduan beserta cinta pada sang bunda dan ketiga adiknya membuahkan semangat pengorbanan tiada henti. Dan bershaf-shaf manusia langit lainnya, bertebaran di bumi sejuta pahlawan ini tanpa kita tahu identitas dan karya-karya cinta mereka. Namun yang pasti, kerja-kerja besar yang mereka lakukan tak akan berhenti hingga tercapai kesempurnaan dan Allah Memberikan Ketentuan-Nya..
Namun apa yang ada di sisi sebaliknya? Bukankah semua hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan? Maka kalau ada cinta yang menginspirasi menebar kebaikan, kejahatan pun seakan tak mau kalah berkompetisi. Kecintaan berlebihan pada kedudukan dan perhiasan dunia lainnya, telah menghalangi Abu Jahal untuk berucap dua kalimat syahadat. Bahkan ia berada di barisan terdepan kaum kafir Mekkah dalam memerangi sang keponakan Muhammad. Atau kejahiliyahan Fir’aun, dengan pengangkatan dirinya sebagai Tuhan, juga menjadi pembuktian cinta berlebih pada diri sendiri. Masih jernihkah ingatan kita akan Qarun, Haman, Abu Lahab, beserta segenap pendukung kejahiliyahan yang lain? Mereka menjadi korban kecintaan yang dibangunnya sendiri. Dan ternyata bukan kebodohan yang membelokkan cinta yang sesungguhnya lurus itu. Karena para pembesar Quraisy bukanlah orang-orang yang terbelakang dalam hal intelektualitas. Namun kesombonganlah yang memiliki peran sebagai aktor utama. Dengan sihir cantiknya, ia menjerumuskan manusia-manusia lemah dalam lembah kehancuran dan kehinaan. Dan Abu Thalib adalah salah satu korban sang aktor. Meski berjuang demi keselamatan diri Nabi, bukan kalimat syahadat yang keluar dari lisannya di nafas terakhir.
Namun justru realitas saat inilah yang membuat kita lebih meratap sedih. Lihatlah betapa sempitnya definisi cinta di akhir zaman ini. Terlebih segolongan manusia yang menamakan diri mereka pemuda-pemudi zaman ini. Atas nama cinta, mereka halalkan percampuran yang dilarang. Atas nama cinta, mereka meminta harga mahal diri sang kekasih pujaan. Tapi di atas itu semua, atas nama cinta, mereka memaksakan pembenaran atas semua yang mereka lakukan. Cinta bagi mereka adalah pemuasan syahwat belaka. Cinta bagi mereka adalah keinginan untuk memiliki dan membatasi, yang mengalahkan kewajiban untuk memberi dan melindungi. Cinta bagi mereka adalah keinginan untuk mengeksploitasi, bukan penumbuhan harapan untuk kebermanfaatan diri.
Sehingga kesimpulan itu datang dengan sendirinya, bahwa semua bentuk cinta menuntut pembuktian sebenar-benarnya. Maka terlepas dari benar atau salah kecintaan yang mencandui seseorang, ia tetap akan melahirkan energi keproduktifan. Baik keproduktifan untuk kebenaran atau keproduktifan untuk kebatilan. Ia menuntut dituangkan dalam kanvas besar kehidupan. Memberi warna tersendiri untuk karya agung lukisan sejarah peradaban. Dengan gelayut mendung kelam menghitam atau simfoni pelangi cerah nan indah.
Begitulah perimbangan yang Allah berikan untuk kita. Jikalau ada kebaikan tertanam di salah satu sudut bumi, maka akan ada kejahatan sebagai musuh yang menandingi. Saat kebencian terasa menyelimuti sekeliling diri, selalu ada cinta membalut setiap inci tubuh ini. Karena sesungguhnya diri kita ini adalah buah karya cinta. Dan lebih dari itu, kita adalah karya Sang Pemilik Cinta.
Tibalah saatnya untuk memperlambat laju kereta kehidupan kita. Dan sejenak kita buka kembali peta perjalanan hidup kita. Sudah sejauh mana langkah kaki membawa? Tinggal berapa lagi jarak kita menyudahi perhentian sementara? Dan bekal yang telah kita kumpulkan selama perjalanan singkat ini. Sudahkah ia terisi dengan amal-amal nyata kebaikan? Sudahkah ia berhias tulus ikhlas pengorbanan? Sudahkah ia tersepuh warna-warni gemerlap inspirasi cinta? Kalau jawaban dari semua pertanyaan itu adalah belum, lalu tanyakan kembali pada diri kita, kapan karya-karya sejarah milik kita tercipta ? Kapan nama kita mengukir prestasi terhormat mendunia ?
Mari jawab rentetan tanya itu dengan aksi nyata. Jangan biarkan cinta berhenti mengaliri nafas mulia kehidupanmu. Dan menggenang tak bergerak di sudut hatimu. Karena cinta yang menggenang diam itu membawa penyakit. Layaknya air diam tak mengalir yang membiarkan penyakit berjangkit. Maka alirkanlah cintamu di seluas samudera kehidupan. Mengarungi gelombang besar ujian dan cobaan yang menghadang. Karena memang itulah pajak yang mesti dilunasi dan harga yang harus dibayar. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Bahkan pengorbanan itu menguatkan. Seperti barisan puisi yang tersusun rapi :
Jangan dilarang
Orang yang melayang pandang
Ke sabilillah
: ia sudah tahu resah nyata semesta
seringai malam bumi kita
Jangan ditahan
orang yang ingin melemparkan diri
ke sabilillah
: ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus
juga rejam rintangan itu
Jangan dinanti
orang yang pergi ke sabilillah
: ia sudah tahu ke mana
harus menjual nyawa
(puisi ’Fi Sabilillah’ ; Helvy Tiana Rosa)
Akhirnya, mari bangkitkan semangat produktivitas cinta yang kita punya. Dengan menuangkan energi itu dalam amal-amal kebaikan tentunya. Demi kemuliaan kita dan orang-orang tercinta. Demi sempurnanya kehidupan dunia dan akhirat kita. Bahkan demi Allah dan dien kita. Agar nama cinta tak lagi ternoda. Dan cinta kita abadi menyejarah.