Oleh: rizkiwicaksana | Februari 25, 2008

Abadi Menyejarah lewat cinta

Suasana kala itu begitu mengharu biru. Langit kesedihan menyelimuti hati setiap insan beriman. Hari itu, sang Utusan kembali pada Kekasih. Setelah beberapa lama berjibaku dengan sakit yang beliau derita. Akhirnya saat itu datang juga. Para sahabat seakan tak percaya bahwa mereka akan ditinggal pergi sang pemilik akhlaq terbaik. Bahkan sahabat sekaliber Umar r.a. pun harus disadarkan oleh Abu Bakar r.a. Ini memang suatu tepian sejarah yang mengguncang hati orang-orang mukmin. Dan sebelum beliau benar-benar menutup mata rantai kenabian untuk risalah yang diembannya selama kurang lebih 23 tahun, sebuah fragmen romantis tercatat apik dalam lembaran sejarah. Ketika itu, dengan sisa-sisa kekuatan yang beliau miliki, dan dengan nuansa kecintaan yang meliputi, beliau menyebut-nyebut “Ummati…ummati…ummati…”, sebelum akhirnya beliau meninggalkan dunia ini dalam pangkuan sang isteri, Ummul Mukminin, Aisyah radiyallahu ’anha.

Begitulah kira-kira penggalan episode terakhir dari sejarah kehidupan Rasulullah. Episode tersebut mengajarkan kepada kita setidaknya sebuah hikmah berharga. Hikmah yang terlahir pada momen krusial kehidupan. Hikmah yang termediasi takdir dan berhiaskan keterluarbiasaan emosional perasaan. Hikmah yang terkristalisasi dalam keagungan pribadi seorang utusan. Bahwa beliau, Rasulullah SAW, begitu mencintai umatnya. Ya, kita. Umat beliau. Kitalah yang beliau risaukan ketika hidup sampai di akhir perjalanan. Kitalah yang disebut-sebut di atas keperihan menghadapi maut.

Dan sampailah kita pada suatu simpulan, bahwa kita dapat dengan mudah mengkategorikan petikan sejarah tersebut sebagai salah satu indikator. Sebuah indikator kadar kecintaan beliau kepada umatnya. Meski sejatinya sudah terlalu kasat mata wujud kecintaan itu. Sebut saja goresan tinta emas peristiwa kenabian yang mencatat kesabaran beliau menghadapi perlakuan kaumnya. Maka cukuplah kisah kaum musyrik Tha’if menjadi bukti ketahanan beliau atas luka yang menganga. Bahkan kesabaran Jibril pun mencapai batasnya. Lantas beliau hanya berkata ”Ya Rabbi, ampunilah mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. Ya, gunung dan adzab tak jadi ditimpakan. Karena terhalang oleh kelapangan sabar sang utusan. Dan terhijab oleh kemurahan cinta sang manusia pilihan.

Begitulah seharusnya cinta mengambil peranan. Ia tidak hanya bergelora di alam jiwa namun juga produktif mendulang karya di alam nyata. Bergerak, senantiasa menyemai benih kebaikan tak terbatas untuk kemudian dituai kemanfaatannya. Cinta adalah energi yang membiarkan pemiliknya mengambil kekuatan tak terbatas darinya. Ia adalah telaga bening yang menyegarkan kehausan pengembannya. Serupa mata air yang memancarkan kebeningan dan kesegaran. Karena mencintai sesungguhnya berarti menebar manfaat. Layaknya mentari yang setia berbagi cahaya pada seluruh makhluk di bumi kita.

Belumkah cukup teladan yang diberikan oleh para Nabi dan Utusan? Atau para sahabat yang Rasul lukiskan layaknya gugusan bintang di malam hari, yang apabila kita mengambil salah satu dari mereka maka kita tidak akan tersesat? Bahkan mungkin orang-orang terdekat yang selama ini mendekap kita dengan cintanya? Maka kita tak lagi dapat mengelak. Permasalahannya bukan pada berapa banyak orang yang dapat kita jadikan teladan, atau peran apa yang telah mereka sumbangsihkan demi kebaikan pribadi kita. Namun permasalahannya adalah karena kita lebih sering buta. Ya, buta untuk melihat dengan jelas ketulusan cinta yang mereka persembahkan untuk kita. Buta akan gurat-gurat kelelahan wajah orang tua kita, yang siang dan malam beliau dedikasikan demi kita, anak-anaknya tercinta. Bahkan kita juga buta dan seakan tak mau tahu terhadap ayat-ayat cinta Allah SWT yang tertanam dalam tiap sel tubuh kita.

Jika itu belum cukup, mari tengok kembali potongan zaman terbaik dari sejarah umat ini. Ada banyak bintang yang dapat kita ambil sebagai petunjuk mengarungi kehidupan. Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha adalah blueprint wanita shalihah yang menyejarah sejak 14 abad silam. Kesetiaannya mendampingi sang suami menghadapi berbagai ujian dakwah ’memaksa’ Rasulullah SAW menganugerahi beliau sebagai sebaik-baik wanita, hingga disetarakan dengan Maryam binti ‘Imran. Ada sosok Saudah binti Zam’ah radhiallahu ‘anha. Beliau adalah istri Rasulullah yang menyempurnakan cintanya dengan pengorbanan merelakan giliran harinya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Begitu pula dengan ‘Aisyah dan segenap Ummahatul Mukminin, seluruhnya adalah cermin dan cahaya bagi setiap muslimah.

Di negeri kita, hari ini, masih ada manusia yang pantas kita titipi bangga dan cemburu, untuk selanjutnya kita imitasi dan inovasi. Ada Ustadzah Wirianingsih, seorang ibunda dari 11 orang anak hafidzul Qur’an. Motivasi dan konsistensi cinta yang beliau dan suami berikan pada anak-anaknya, pada akhirnya mengangkat mereka ke derajat tertinggi orang tua. Ada Ustadz Habiburrahman El Shirazy yang mengejawantahkan cintanya menjadi karya-karya penggugah jiwa. Petiklah tokoh Khairul Azzam yang ditulisnya dalam dwilogi novel penggugah jiwa Ketika Cinta Bertasbih. Betapa kerinduan beserta cinta pada sang bunda dan ketiga adiknya membuahkan semangat pengorbanan tiada henti. Dan bershaf-shaf manusia langit lainnya, bertebaran di bumi sejuta pahlawan ini tanpa kita tahu identitas dan karya-karya cinta mereka. Namun yang pasti, kerja-kerja besar yang mereka lakukan tak akan berhenti hingga tercapai kesempurnaan dan Allah Memberikan Ketentuan-Nya..

Namun apa yang ada di sisi sebaliknya? Bukankah semua hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan? Maka kalau ada cinta yang menginspirasi menebar kebaikan, kejahatan pun seakan tak mau kalah berkompetisi. Kecintaan berlebihan pada kedudukan dan perhiasan dunia lainnya, telah menghalangi Abu Jahal untuk berucap dua kalimat syahadat. Bahkan ia berada di barisan terdepan kaum kafir Mekkah dalam memerangi sang keponakan Muhammad. Atau kejahiliyahan Fir’aun, dengan pengangkatan dirinya sebagai Tuhan, juga menjadi pembuktian cinta berlebih pada diri sendiri. Masih jernihkah ingatan kita akan Qarun, Haman, Abu Lahab, beserta segenap pendukung kejahiliyahan yang lain? Mereka menjadi korban kecintaan yang dibangunnya sendiri. Dan ternyata bukan kebodohan yang membelokkan cinta yang sesungguhnya lurus itu. Karena para pembesar Quraisy bukanlah orang-orang yang terbelakang dalam hal intelektualitas. Namun kesombonganlah yang memiliki peran sebagai aktor utama. Dengan sihir cantiknya, ia menjerumuskan manusia-manusia lemah dalam lembah kehancuran dan kehinaan. Dan Abu Thalib adalah salah satu korban sang aktor. Meski berjuang demi keselamatan diri Nabi, bukan kalimat syahadat yang keluar dari lisannya di nafas terakhir.

Namun justru realitas saat inilah yang membuat kita lebih meratap sedih. Lihatlah betapa sempitnya definisi cinta di akhir zaman ini. Terlebih segolongan manusia yang menamakan diri mereka pemuda-pemudi zaman ini. Atas nama cinta, mereka halalkan percampuran yang dilarang. Atas nama cinta, mereka meminta harga mahal diri sang kekasih pujaan. Tapi di atas itu semua, atas nama cinta, mereka memaksakan pembenaran atas semua yang mereka lakukan. Cinta bagi mereka adalah pemuasan syahwat belaka. Cinta bagi mereka adalah keinginan untuk memiliki dan membatasi, yang mengalahkan kewajiban untuk memberi dan melindungi. Cinta bagi mereka adalah keinginan untuk mengeksploitasi, bukan penumbuhan harapan untuk kebermanfaatan diri.

Sehingga kesimpulan itu datang dengan sendirinya, bahwa semua bentuk cinta menuntut pembuktian sebenar-benarnya. Maka terlepas dari benar atau salah kecintaan yang mencandui seseorang, ia tetap akan melahirkan energi keproduktifan. Baik keproduktifan untuk kebenaran atau keproduktifan untuk kebatilan. Ia menuntut dituangkan dalam kanvas besar kehidupan. Memberi warna tersendiri untuk karya agung lukisan sejarah peradaban. Dengan gelayut mendung kelam menghitam atau simfoni pelangi cerah nan indah.

Begitulah perimbangan yang Allah berikan untuk kita. Jikalau ada kebaikan tertanam di salah satu sudut bumi, maka akan ada kejahatan sebagai musuh yang menandingi. Saat kebencian terasa menyelimuti sekeliling diri, selalu ada cinta membalut setiap inci tubuh ini. Karena sesungguhnya diri kita ini adalah buah karya cinta. Dan lebih dari itu, kita adalah karya Sang Pemilik Cinta.

Tibalah saatnya untuk memperlambat laju kereta kehidupan kita. Dan sejenak kita buka kembali peta perjalanan hidup kita. Sudah sejauh mana langkah kaki membawa? Tinggal berapa lagi jarak kita menyudahi perhentian sementara? Dan bekal yang telah kita kumpulkan selama perjalanan singkat ini. Sudahkah ia terisi dengan amal-amal nyata kebaikan? Sudahkah ia berhias tulus ikhlas pengorbanan? Sudahkah ia tersepuh warna-warni gemerlap inspirasi cinta? Kalau jawaban dari semua pertanyaan itu adalah belum, lalu tanyakan kembali pada diri kita, kapan karya-karya sejarah milik kita tercipta ? Kapan nama kita mengukir prestasi terhormat mendunia ?

Mari jawab rentetan tanya itu dengan aksi nyata. Jangan biarkan cinta berhenti mengaliri nafas mulia kehidupanmu. Dan menggenang tak bergerak di sudut hatimu. Karena cinta yang menggenang diam itu membawa penyakit. Layaknya air diam tak mengalir yang membiarkan penyakit berjangkit. Maka alirkanlah cintamu di seluas samudera kehidupan. Mengarungi gelombang besar ujian dan cobaan yang menghadang. Karena memang itulah pajak yang mesti dilunasi dan harga yang harus dibayar. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Bahkan pengorbanan itu menguatkan. Seperti barisan puisi yang tersusun rapi :

Jangan dilarang
Orang yang melayang pandang
Ke sabilillah
: ia sudah tahu resah nyata semesta
seringai malam bumi kita
Jangan ditahan
orang yang ingin melemparkan diri
ke sabilillah
: ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus
juga rejam rintangan itu
Jangan dinanti
orang yang pergi ke sabilillah
: ia sudah tahu ke mana
harus menjual nyawa
(puisi ’Fi Sabilillah’ ; Helvy Tiana Rosa)

Akhirnya, mari bangkitkan semangat produktivitas cinta yang kita punya. Dengan menuangkan energi itu dalam amal-amal kebaikan tentunya. Demi kemuliaan kita dan orang-orang tercinta. Demi sempurnanya kehidupan dunia dan akhirat kita. Bahkan demi Allah dan dien kita. Agar nama cinta tak lagi ternoda. Dan cinta kita abadi menyejarah.

Oleh: rizkiwicaksana | Februari 6, 2008

Palestina

Gaza menangis, gaza sedang menjerit, awan kelam tersenyum kecut di atasnya. Muslimin di dalamnya pun berontak. Semenjak Gaza diduduki HAMAS Juni 2007 lalu, Israel laknatullah terus meng-anak tirikan Gaza. Blokade yang dilakukan negara Yahudi hina itu membuat insan-insan di Gaza harus melakukan sesuatu agar hidupnya tetap berlangsung. Konon, angka kemiskinan di Gaza saat ini mencapai 57 % dan kebutuhan pangan yang tersedia hanya mencukupi sebanyak 37 % penduduk. Tidak kuat dengan keadaan, alhasil, dua pekan lalu, pagar perbatasan Gaza dengan Mesir dibuat runtuh oleh dua pejuang “bertopeng” HAMAS. Namun, hanya dua hari saja ikhwah-ikhwah di Gaza merasakan kebebasan. Hanya 48 jam saja mereka bisa mencari bahan makanan penyokong kehidupan. Setelah itu, pemerintah Mesir menambal kembali blokade besi yang dijebol tadi. Ikhwah fillah… Gaza kembali diliputi awan kelam.

Ini adalah salah satu dari sejuta cerita suram yang terus menghantui Palestina. Sebuah kisah yang membuat pembacanya penasaran bagaimana fragmen ini akan berakhir. Sebuah drama yang penontonnya bisa menangis tersedu-sedu melihat kemeranaan penduduknya. Sebuah saga yang membuat hati bergelora ketika mendengar banyak pejuangnya syahid digempur helikopter Apahce. Ada sebuah pertanyaan yang senantiasa menyelimuti benak kita. Apa yang bisa kita lakukan ? Terdiam dan terpaku membaca kisahnya ? Hanya tercengang dan duduk manis menonton dramanya ? Ataukah sebatas aksi simpati yang terekspresi dalam hati ketika mendengar saga-nya yang penuh heroik itu?. Ikhwah fillah…. itulah bentuk kemampuan terkecil kita dalam menanggapi kedukaan di Palestina. Sebuah respon minimal atas stimulus informasi duka yang masuk melewati indera kita. Namun, meskipun berharga, aksi mini ini ternyata belum cukup untuk bisa merubah keadaan di negeri para anbiya’ itu.

Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat kaum muslimin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaanNya” (QS An-Nisa 84)

Ikhwah fillah, apa yang terjadi di Palestina bukan hanya sekedar persengketaan antara dua agama (Islam dan Yahudi jahannam), bukan pula hanya sekedar konflik perebutan tanah, namun ini sudah menyentuh problem kemanusiaan. Apakah bisa dikatakan manusia, jika warga sipil yang jelas-jelas tidak mengangkat senjata, tega dibombardir dengan roket pemusnah, ya… roket pemusnah, bukan pistol, bom atau bahkan sebilah pisau. Apakah bisa disebut manusia beradab, jika yang semula mereka mengusung sebuah perjanjian damai, malah mereka sendiri yang melanggar dengan menyerang pemukiman warga. Benar sekali, ternyata label bertulis “manusia” telah luntur dari hati pejabat hingga tentara militer negeri zionis terkutuk itu. Dan manusia di belahan bumi lainnya ada juga yang tertular virus ini. Sebuah penyakit defisiensi kemanusiaan. Jika kita masih merasa menjadi hamba Allah dengan fitrah kemanusiaannya, sudah saatnya langkah nyata terealisasikan.

Hanya beberapa contoh yang bisa diungkap di tulisan sederhana ini. Setidaknya menjadi referensi pelengkap dalam “jihad fi filistin” yang telah kita jalankan.

Boikot produk yahudi memang telah menjadi aktivitas favorit kita selama ini. Kegiatan dalam rangka menekan profit bangsa zionis, sehingga anggaran perang terhadap muslimin palestin juga ikut berkurang. Aksi ini terbukti paling mudah dilakukan dan efeknya cukup nyata pula. Harapan ke depan, aksi boikot ini tetap bisa lestari, tidak hanya di kalangan aktivis dakwah tetapi juga menjamur di seluruh umat muslim, yah.. minimal di keluarga kita. Sambil memberikan informasi duka Palestina ke kerabat, juga kita tularkan rasa simpati demi saudara muslim di Al-Quds. Semakin banyak muslim yang mendukung aksi peduli Palestina, semakin dekat kemenangan itu tiba. Simaklah petuah dari baginda Rasul berikut ini:

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka akan selalu menang hingga (menjelang) hari kiamat” (HR.Muslim).

Perlu diketahui, krisis di Palestina ternyata juga merupakan akibat dari banyaknya kaum muslim yang hatinya buta, penuh hawa nafsu, hatinya dilimuti dengan kerak dan membuat mereka diam terhadap kedukaan Palestina. “Maka janganlah kamu turuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula padamu) .” (Al Qolam 8-9)

Siapa yang menyangkal bahwa bangsa zionis ini adalah bangsa dengan kualitas unggul. Siapa pula yang meragukan intelektualitas bani Israil di muka bumi ini.

Benar, kita harus belajar banyak dari mereka (baca:bangsa zionis). Tentu saja dalam urusan pengetahuan dan kecerdasan. Sungguh kontradiksi sekali ketika tentara dengan seragam pelindung lengkap mengarahkan AK-47 versi terbaru dihadapan seorang pejuang yang hanya bersenjatakan ketapel. Sungguh ironis sekali ketika pesawat MIG-29 dihadapakan dengan meriam kecil bekas, entah ada pelurunya atau tidak. Tidak hanya itu, dengan ilmu pengetahuan, mereka telah menguasai keuangan dunia, menjadi pengaruh yang kuat di kancah perpolitikan dunia. What can we do ?.. Apakah kita akan tetap melestarikan hobi kita turun ke jalan, berteriak-teriak, berkoar-koar, entah tentang solusi syariat ataupun sebatas kesimpatian. Sementara di Tel Aviv, New York, dan London, remaja-remajanya asyik bereksperimen, meneliti, duduk serius di kursi perpustakaan, berdiskusi ilmiah untuk menemukan teori ekonomi jitu , untuk menciptakan senjata baru, dan untuk istiqomah belajar budaya-budaya kaum muslimin dalam rangka menghancurkannya.

Ikhwah fillah.., belajarlah banyak dari orang-orang zionis laknat itu. Sudah saatnya ilmu pengetahuan kita bermanfaat dalam kebangkitan umat Islam. Mungkin inilah waktunya kita kembali serius dan peduli terhadap bidang keilmuan kita. Kita belajar tidak hanya sebatas sebagai persiapan UAS, atau untuk menghindari IP dibawah 2,00. Islam butuh profesor ekonomi yang siap menguasai keuangan dunia. Islam butuh guru besar teknik yang mampu menciptakan teknologi canggih. Islam butuh dokter spesialis yang akan menjadi pengobat korban-korban perang kebiadaban Israel. Jika itu masih terlalu tinggi, sebisa mungkin ilmu yang kita tuntut selama ini bisa turut andil dalam kebangkitan Islam, demi kemenangan Palestina saudaraku. Setidaknya ini jauh lebih kongkrit ketimbang menaruh gantungan kunci bendara Palestina di tas kita, memajang stiker HAMAS di meja belajar kita, atau turun ke jalan sambil memaki George W. Bush dan Ehud Olmert. Sekali lagi mari kita kembali peduli pada bidang keilmuan kita.

Ada sebuah pertanyaan yang pasti bisa kita jawab dengan mudah. “Siapakah yang memberi kemenangan atas muslimin di Palestina?”. Tak kurang dari 5 detik semua pasti serempak dengan jawaban : Allah Swt.. Benar ikhwah fillah. Yang menjadi time keeper penentu kapan Palestina akan benar-benar merdeka adalah Allah azza wa jalla. Bahkan Dia telah berjanji dalam firmanNya:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhloi-Nya untuk mereka, Dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa…” (An Nur 55)

Jika kemerdekaan Palestina juga merupakan kemenangan umat muslim sejagat raya ini, maka muslim seluruh dunia telah menjadi aktor protagonisnya. Kemudian, yang menjadi petanyaan super-berat ialah : “Apakah saat ini umat muslim telah pantas atas kemenangan itu..?”. Perhatikan wahai akhi-ukhti, Allah hanya berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh saja, bukan kepada selain itu. Lantas, sudahkah kita termasuk yang mengadakan kontrak kemenangan itu kepada Allah ?, sudahkah kita benar-benar beriman ?, sudahkan kita terbiasa melaksanakan amal saleh tanpa ada setitik niatpun selain meraih keridhloan Allah ?, sudahkah kita meninggalkan hobi maksiat kita ?. Wahai aktivis dakwah, ini mungkin yang menyebabkan kenapa selama ini Palestina terjerembab dalam jurang kedzaliman.

Allah masih belum rela kemenangan itu dilimpahkan kepada kita kaum muslimin yang masih berlumur dosa, masih diliputi kedengkian dan kesombongan. Bagaimana siap menerima award dari Allah, ternyata sholat Subuh kita masih di atas jam lima. Bagaimana mungkin Islam akan berjaya, ternyata detik-detik kita belum terhiasi dengan dizkrullah. Bagaimana Palestina akan free, ternyata kita masih belum tahu makna bahasa Qur’an. Dan bagaimana mungkin Yahudi bisa colaps, ternyata kita belum sepenuhnya rutin untuk sholat Lail

Ikhwah fillah, mari kita amalkan semua ilmu yang kita raih saat TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi hanya untuk kemajuan Islam, hanya untuk kebangkitan Islam. Mari kita ajak saudara-saudara kita untuk berempati atas kedukaan Palestina. Mari kita me-reformasi diri kita ke arah lebih baik dengan amalan-amalan saleh kita. Dan, mari kita hiasi malam-malam kita dengan tangisan doa atas syuhada-syuhada di Al-Quds. Ini mungkin bisa mengimbangi jerih payah mujahid-mujahidah di Palestina. Lakukan, apa yang bisa segera kita lakukan untuk agama ini. Selamat melakukan.

Wallahua’lam bi showab. (Fzl)

Silahkan Sharon dan kawan-kawannya meneruskan apa yang mereka inginkan di sini, kami akan tetap meneruskan perjuangan ini. Jalan yang kami lalui ini memang berat. Namun, inilah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kami semua kepada cita-cita kami (surga). Di atas dasar ini kami sekali-kali tidak akan lemah, tidak akan menyerah, dan tidak akan menghina diri kami sendiri (dengan menyerah kalah kepada Israel).

Kita akan mati juga satu hari nanti, entah disebabkan oleh Apache ataupun sakit jantung (yang pasti kita semua akan mati). Dan saya memilih mati dibom oleh Apache (Israel). (Abdul Azis Ar-Rantisi)

Oleh: rizkiwicaksana | Januari 13, 2008

Catatan Awal Tahun USC

Momen pergantian awal tahun mungkin dirasakan manis oleh beberapa orang karena dalam tahun yang baru maka diharapkan adanya sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Namun hal itu ternyata tidak hanya dirasakan orang umum saja namun juga usc. Bukan karena merayakan tahun baru tapi karena usc baru saja melaksanakan rapat kerja untuk menyongsong tahun 2008. Membuat program yang dirancang untuk kemajuan dakwah di tahun yang baru.

            Namun untuk tahun baru ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh barisan dakwah karena masalah itu bersal dari pemuda-pemuda kita, terutama yang berada di Surabaya. Fenomena yang nampak adalah pada saat perayaan tahun baru. Ketika setelah pulang dari acara kajian tentang refleksi akhir tahun oleh ustadz zubairi, tepatnya pukul 23.30 malam, dari sepeda motor bebek yang saya kendarai saya dapati pemuda-pemuda dengan baju hitam rambut dicat dikit kemudian motornya dibleyer greng…greng…greng sambil memegang rokok ditangan kirinya dan ada juga yang ditaruh diatas telinganya. Pemuda-pemuda itu menghalangi kendaraan dibelakangnya untuk lewat dan terus membleyer yang menjadi parah adalah tidak hanya ada anak cowok saja tapi cewek juga banyak yang dibonceng atau mengendara sendiri. Wah miris sekali ya…dan yang luebih menusuk hati itu jumlahnya tidak sedikit tapi saya mengamatinya mulai jalan kertajaya sampai rute mayjend sungkono dan masih banyak model lain diluar itu yang tumpah ruah membanjiri kota Surabaya di gemerlapnya tahun baru. Mungkin itu adalah salah satu masalah besar yang harus dihadapi bangsa ini selain munculnya bencana yang datang menghantam bertubi-tubi. Gambaran itu sedikit membuat saya luntur semangat dan berkata dalam hati, ”Ya Allah bagaimana kami bisa mengatasi orang sebanyak ini?” ya jika sendiri tentu saja sulit maka dari itu kita diharapkan dapat bekerja secara amal jama’i.

            Diantara bayang-bayang kesedihan tiba-tiba teringat akan  ayat yang ada di al-quran yang memeberikan semangat laksana dinginnya tetesan salju yang memadamkan api kesedihan. Yakni QS. al-baqarah 249.

 NŸ2 `ÏiB 7pt¤Ïù As#ŠÎ=s% ôMt7n=xî Zpt¤Ïù OouŽÏWŸ2 ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇËÍÒÈ Artinya: “…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” 

Itulah ayat yang kembali memberikan kukuatan kepada kita untuk tetap berazam nan selalu bejuang di jalan kebaikan meskipun jumlah orang yang muslikh itu sedikit. Dan Allah akan membuktikan janji-Nya jika kita termasuk orang yang sabar. Sabar disini bukan berarti diam tanpa melakukan apa-apa namun setelah berusaha sungguh-sungguh apapun hasil yang diberikan Allah tetap kita terima dengan persaan husnudzon. Mungkin kemenangan kita ditangguhkan untuk waktu berikutnya.

            Ikhwah fillah, jika masalah itu datang dari pemuda terutama pelajar lebih-lebih yang berada di Surabaya, maka salah satu jawabannya adalah Uswah Student Center. Meski banyak solusi yang sebenarnya harus diusahakan dari berbagai elemen umat ini. Oleh karena itu Uswah harus tetap tumbuh dan melaju ditengah badai derasnya badai demoralisasi moral, hingga dunia ini bisa menyapa kembali sinar mentari kebaikan.

            Marilah sejenak kita simak ungkapan Hasan Albana tentang perhatiannya yang begitu mendalam kepada pemuda (ilasy syabab).

Tiada sesuatupun yang membuat kami Bersikap seperti ini selain rasa cinta Yang telah mengharu biru hati kami Menguasai perasaan kami, Memeras habis air mata kami dan mencabut rasaIngin tidur dari pelupuk mata kami,…

Dengan hadirnya kita dalam barisan ini, mungkin bisa menandakan seperti itu pula rasa cinta kita kepada pemuda-pemuda umat ini, harapan kita terhadap lahirnya generasi-generasi gemilang. Maka dari itu barisan ini (Uswah Student Center) harus mempunyai bekal untuk menyelamatkan para pemuda kita, dimana masih menancap kuat di pikiran dan hati kita bahwa desember lalu kita baru saja merencanakan program-program guna mengoptimalkan dakwah kita di tahun yang baru. Berkaitan dengan bekal tersebut, menurut pendapat saya ada beberapa point yang harus dicermati antara lain:

*      Kesolidan Wajihah

Seseorang tidak akan bisa mengatur orang lain sebelum dia bisa mengatur dirinya sendiri. Seperti itu pulalah seharusnya wajihah kita, sebelum terjun lebih jauh seharusnya terlebih dahulu kita menjadi wajihah yang professional, mempunyai jaringan dana, punya SDM unggulan, terlaksanaknya program-program hingga mempunyai secretariat yang memadai. Hal tersebut harus terpenuhi agar kita siap menerima kemenangan yang diberikan Allah. Mungkin tiba-tiba diknas mengajak kita sebagai mitra kerjanya untuk perbaikan pemuda di Surabaya eh kita tidak siap dana programnya macet atau mungkin SDMnya tidak ada yang mengerjakan dengan alasan kuliah dsb. Sedangkan wajihah/lembaga itu menjadi sangat penting untuk sarana amal jama’I kita.

*      Melayani untuk mendakwahi

Saya baru tersadarkan setelah membaca bukunya mas salim yang Saksikan Bahwa aku seorang muslim. Ternyata dalam dakwahnya rasulullah saw meletakkan pelyanannya sebelum dakwahnya pada saat merekrut orang madinah yang akan masuk islam pada saat berbaiat di aqabah yang tertuan dalam Q.S al balad ayat 10 sampai 16. Dimana Rasulullah menjajikan akan mengupayakan penghapusan perbudakan,  kelaparan serta kemiskinan dalam islam.Dan itu cocok sekali diterapkan untuk orang-orang yang masih ammah. Maka kita juga patut untuk menirunya dan mungkin sudah dilaksanakan oleh DPP ya ataupun divisi yang ada nama riayahnya. Tinggal bagaimana kita mengoptilkan HOW TO nya.

*      Kesungguhan dalam Pembinaan

Kepada saya, dan kepada aktivis dakwah terutama para murobbi dan murobbiyah dakwah sekolah, pahamilah bahwa Allahlah yang telah menitipkan para pemuda itu dalam halaqoh kita bukan uswah ataupun guru agama, jadi kita harus sungguh-sungguh memelihara titpan Allah tersebut. Kita berangkat ke sekolah tidak hanya formalitas nigisi materi tapi disana kita mencetak kader, kita tak hanya bertegur sapa tapi kita jalin ukhuwah dan berikan manisnya tabiyah kepada mereka sebagaimana manisnya tarbiyah itu telah diberikan kepada kita agar binaan kita tidak mudah hilang dan tetap terpelihara hingga kita akan punya 5000 binaan nantinya. Kita juga harus mengupgrade diri agar dakwah kita pada binaan kita lebih baik rajin menghadiri forum mentor, mengikuti SekMenBi dengan baik ataupun tidak enggan mengumpulkan data binaan tepat pada waktunya. Karena begitu banyaknya keutamaan seorang murobbi yang termuat baik dalam qur’an dan hadist, maka hendaknya kita metakkan prioritas halaqoh kita diatas amanah-amanah dakwah kita yang lain, misalnya kita mengerjakan aktivitas di uswah dengan serius mengerjakan ini itu tapi kita kurang memperhatikan halaqoh kita,  tentu saja tanpa mengurangi keseimbangan terhadap keprofesionalitasan karena seimbang itu adalah menempatkan sesuatu sesuai kadarnya. Sekali lagi,  harus kita pahami bersama bahwa inti dakwah kita ada pada tarbiyah islamiyah dalam halaqoh kita.

      “Barang siapa mengajak pada petunjuk maka dia akan mendapat kebaikan/phala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahal orang yang diajaknya” (HR. Muslim). 

*      Tetap pada Asholah kita

Salah karakteristik islam adalah tsabat terhadap pokok-pokoknya dan murunah terhadap metodenya. Jadi apapun metode yang kita lakukan dalam menghadapi kondisi yang carut marut ini hendaknya kita tetap berada pada manhaj kita yaitu berpedoman pada Al-Qur’an, As-sunnah dan para salafus shalih. Yang seharusnya kita upayakan adalah bagaimana menjaga  kesimbangan antara keghurobaan kita dangan sikap adaptif  dakwah kita dengan  kondisi saat ini. Karena menurut Ustadz Anis Matta dakwah tidak cukup meliki syarat benar saja tetapi juga tepat dan keduanya harus senantiasa berdampingan.

 “Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahma.”t (QS.Al imran :132) Jika kita ingin golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak Maka hendaknya kita bersama bersungguh-sugguh untuk memenuhi point-point kemenangan tersebut dan selalu bersabar ata apa yang telah kita usahakan. Ada pepatah arab (bukan hadist) yang mengatakan “Al khayatu bittamanni walaisattamanni illa bil jiddi ” (kita hidup dengan pemberian dan takkan ada pemberian melainkan dengan kesungguhan) Jika kita benar menginginkan kemenagan yang akan diberikan Alllah maka kita kita juga harus bersungguh-sungguh mengusahakan point-point kemenanganya. Selamat bersungguh-sungguh!(Qq)

Oleh: rizkiwicaksana | Januari 5, 2008

TELADAN SEBELUM BERDAKWAH

Kita semua yang ada di sini sedang hidup di jalan dakwah. Dimana dakwah itu pernah dimulai dan takkan pernah diakhiri melainkan hingga kita telah sampai pada haribaan mardhatillah dan kenikmatan surganya. Orkestra dakwah ini tidak hanya memberikan pencerahan, petunjuk dan kebahagian kepada kita tetapi juga telah mengajarkan kita untuk tetap bertahan dan berjuang menerjang onak dan duri di setiap likunya. Dari kemenangan dakwah ini kita cita-citakan sebuah harapan besar…ya…kembalinya kejayaan islam yang dipikul oleh generasi-generasi robbani umat ini. Dibalik sebuah harapan besar, maka lahirlah sebuah usaha besar pula untuk mencapai kesana. Maka salah satu usaha tersebut adalah menata kembali kesempurnaan dakwah kita agar menjadi lebih baik.

Sesungguhnya yang harus kita pahami terlebih dahulu bahwa hal yang terpenting dalam dakwah ialah sebuah keteladanan. Sebagaimana yang ditulis oleh Said Hawa, bahwa kaidah dakwah yang paling utama adalah AlQudwah Qobladda’wah yaitu teladan sebelum berdakwah. Maka pada tulisan ini salah satu kaidah yang harus kita tata lagi adalah keteladanan kita dalam berdakwah. Hal itu digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana keteladanan beliau telah membuat cahaya islam ini menerangi seluruh penjuru dunia dan menjadikan beliau sebagai orang nomor 1 di dunia.

Allah berfirman, ” Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]. Ditanya Ummul Mukminin Aisyah tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menjawab kepada yang bertanya : “Wahai anak saudaraku, apakah kamu telah membaca Al-Qur’an ?” dia jawab : “Ya”. Lalu beliau berkata : “Akhlaknya Rasulullah adalah Al-Qur’an”

Oleh karena itu akhi/ukhti, kita yang telah diberi Allah amanah sebagai punggawa dakwah di USC, di unit sekolah ataupun sebagai murobbi & murobbiyah hendaknya kita harus mejadi contoh teladan yang baik bagi objek dakwah kita (mad’u dan binaan kita) dan menjadi teladan pada diri kita, karena jika tidak demikian maka dakwah kita akan menjadi bencana bagi kita dan tidak mendapatkan orang yang mau mendengarnya.

Keteladanan adalah kekuatan pesan moral terbesar. Maka apabila da’i berdakwah dengan keteladanan maka khasanah ilmu yang diberikan akan meluncur laksana anak panah hidayah yang menancap tepat pada jantung hati mad’unya. Keteladanan bagi pemegangnya adalah kemulian, dan keberkahan bagi sekelilingnya.. Ibarat buah mangga yang jatuhnya tidak pernah jauh dari pohonnya, maka seperti itu pulalah gambaran seorang murobbi/murobbiyah terhadap binaannya. Maka jika kita ingin tilawah binaan kita baik maka tilawah kita juga harus baik, jika kita ingin binaan kita jadi kader militan maka kita harus menjadi orang-orang yang juga selalu memenuhi panggilan-panggilan dakwah, jika kita ingin binaan kita tidak terlena dengan dunia maka kita juga harus menjaga diri kita dari segala godaan dunia dan hal yang bersifat sia-sia.

Namun semakin tinggi suatu pohon maka semakin kencanglah angin yang menerpanya sebagaimana kita seorang da’i maka syetan yang mennggodapun sekelas da’i. Jika kita tergoda maka dengan mudah kita akan melakukan hal-hal maksiat yang tidak sesuai dengan ucapan kita. Maka seorang da’i hendaklah menghindari sifat-sifat munafik yaitu mengerjakan apa yang telah ia larang dan tidak mengerjakan apa yang ia serukan. Agar tidak menjadi seperti judul bukunya Fathi Yakan -–Robohnya dakwah di tangan da’i– Maka Allah telah mengingatkan dalam Al-qur’an yang Artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [Ash-Shaff : 2-3]. Semoga allah melindungi kita dari perbuatan tersebut.

Jika kita mencoba menyelami samudra tarbiyah, maka proses tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi tilawah (membacakan), tazkiyah (mensucikan diri) dan ta’lim (mengajarkan) sebagaimana friman Allah dalam surat [al-baqarah :151]. Oleh karena itu perlunya meluruskan pemahaman kita terhadap hakikat keteladanan, keteladanan bukan berarti menunggu seorang itu alim atau baik terlebih dulu baru berdakwah kepada orang lain atau harus menunggu menjadi seorang ulama/syaikh dulu baru berdakwah. Pendapat tersebut agaknya tidak begitu bijak. Tetapi keteladanan yang dimaksud disini adalah melakukan perbaikan pada diri seraya megajarkan kebaikan tersebut pada orang lain.

Sebagai manusia yang punya begitu banyak keterbatasan, kita megalami kelalaian -kelalaian dalam mencapai keteladan tersebut. Oleh karena itu seorang da’i harus memiliki tadkhiyah dalam menjaga keteladanannya tersebut. Ia rela memotang jatah tidurnya untuk mendirikan sholat malam, rela mengurangi hiburannnya untuk senantiasa mengupgrade diri serta rela meminimalkan senda guraunya untuk mencurahkan segenap pikirannya pada kepentingan dakwah. Selain itu perlunya sebuah bi’ah (lingkungan) yang berendakan bahtera kabaikan di sekitar kita. Maka ingatkanlah dengan bijak saudara kita bila ia lalai ataupun berbahagialah jika kita yang dinasehati karena kesalahan kita karena hal tersebut menandakan bahwa saudara kita masih menyayangi kita..

Akhi/Ukhti optimislah bahwa kita bisa menjadi seorang da’i yang teladan. Karena dien ini hanya akan dipikul oleh orang-orang yang bertekad baja. Di kiri kita ada saudara dengan hamasa yang membara, di kanan kita ada murobbi/murobbiyah kita dengan wajah yang bersahaja, di belakang kita ada orang tua yang selalu mendoakan kita menenangkan badai agar tetap tegar kita berjalan nanti, dan di depan kita ada wajah ceria binaan kita yang merindukan uluran kelembutan cahaya islam.

Sebagai penutup, tahukah antum bahwa wajihah kita bernama Uswah Student Center. Uswah berarti teladan. Maka kita sebagai anggota uswah harus menjadi uswah pula yang mencerminkan nama wajihah kita, yang kita cintai bersama yaitu USWAH STUDENT CENTER.

Oleh: rizkiwicaksana | Januari 5, 2008

CINTA KEBERSAMAAN

Daun-daun yang berserakan

Itulah gambaran mungkin yang cocok dalam mencerminkan kondisi umat islam kita sekarang. Tiap-tiap umat seakan berdiri diatas daratan-daratan yang berbeda seolah olah tidak bisa disatukan lagi sebagimana pohon pada mulanya. Warna perpecahan telah memberikan noda besar dalam tubuh persatuan umat ini. Secara umum tiap-tiap umat ini berjalan sendiri-sendiri meskipun terarah pada tujuan yang sama yaitu mewujudkan kembali kejayaan islam. Sebagaimana ekor cicak yang teputus dari badannya, pada mulanya ekor itu akan bergerak-gerak secara aktif namun lama-lama akan berhenti karena tidak mendapat suplay dari tubuhnya, ataupun ekor yang telah terputus itu hanya akan dijadikan umpan cicak yang digunakan untuk mengelabui mangsanya. Hal itu pulalah yang tergambar pada seorang muslim apabila ia tidak hidup dalam kebersamaan dengan muslim lainnya atau yang kita kenal dengan istilah jamaah. Sebagaimana ekor cicak tadi, seorang muslim yang berjalan sendiri pada awalnya akan bersemangat di awal namun lama-lama akan loyo bahkan sampai berhenti ataupun ia hanya akan menjadi mangsa pihak-pihak yang ingin meruntuhkan jamaah islam ini. Oleh karena itu jamaah menjadi sebuah alat yang tepat untuk menyatukan potensi-potensi umat islam yang berserakan ini menjadi sebuah kekuatan besar untuk mencapai tujuan bersama.

Menghimpun daun-daun yang berserakkan

Untuk mencapai sebuah jamaah kita harus mampu mengumpulkan potensi-potensi umat islam. Para orang shalih dari umat ini yang diharapkan menjadi penggerak terbentuknya kesatuan umat ternyata tidak bisa disatukan melainkan hidup dengan jamaah-jamaahnya sendiri. Orang-orang shalih umat ini masih disibukkan dengan perdebatan mereka dalam masalah furuq, padahal masih banyak hal lain yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih missal : pembinaan pemuda kita , bagaimana menangkal gawzul fikri ataupun membangun rumah peradaban islam ini bersama-sama. Namun setidaknya hal tersebut tidak lebih buruk dibandingkan jika tiap-tiap orang islam harus berjalan sendiri-sendiri tanpa payung jamaah. Oleh Karena itu diperlukan rasa cinta yang harus dipupuk seorang muslim terhadap muslim yang lain, sehingga benih-benih ukhuwah bisa tersemai dalam hati setiap muslim. Rasa cinta yang menyemai ukhuwah inilah yang menjadi pilar berdirinya sebuah jamaah yang kokoh. Rasa cinta inilah yang membuat hati-hati umat ini terikat oleh akidah yang sama sehingga mereka akan mendehulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan sendiri. Sebagaimana ketika rasulullah telah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan anshar, pada saat itu Sa’id bin Rabi yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf, karena cinta bilau kepada Allah dan rasulnya serta kepada saudaranya tersebut, Sa’id bin rabi rela memberikan separuh hartanya dan satu istrinya kepada Abdurrahman bin Auf. Namun dengan bijak Abdurrahman bin Auf menolaknya dan hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Luar biasa sekali persaudaran umat islam di jaman Rasulullah saw. Bagaimana jika ukhuwah dan rasa kecintaan seperti itu terpupuk dalam umat ini maka bukan tidak mungkin jika islam akan menjadi jamaah yang solid dan kokoh dan terkumpulah daun-daun yang berserakkan itu dalam satu cakupan yaitu cakupan cinta.

Daun-daun yang berpola dan tersusun rapi

Dengan adanya persamaan tujuan, kepahaman satu sama lain, ukhuwah yang begitu indah sehingga menyatukan kita dalam satu cakupan cinta maka untuk mencapai kembalinya kejayaan islam, umat islam harus bekerja dalam sebuah kebersamaan dengan sistem yang integral yaitu melalui jamaah. Yang harus kita sadari bersama adalah bahwa tidak banyak yang bisa kita kontribusikan atau sumbangkan untuk islam jika kita tidak bekerja dalam jamaah. Oleh karena itu untuk menggapai cita-cita besar maka yang harus kita lakukan adalah melakukan perubahan dari mencintai bekerja sendiri kepada mencintai pola kerja secara jamaah. Dari awal kecintaan kita terhadap kebersamaan (amal jama’i) inilah yang akan mengasilkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas perjuangan. Karena cinta adalah sebuah gejolak jiwa yang memberikan kekuatan luar biasa bagi pemiliknya. Cinta dapat membuat orang bodoh mnejadi pintar, membuat seorang penakut menjadi pemberani dan cinta juga mampu mengangkat derajat seorang budak menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah. Sebagaimana Bilal bin Rabbah karena kecintaannya terhadap Allah maka ia rela mendapat tindihan batu dan tetap mengatakan ahad..ahad..ahad hingga sekarang beliau menjadi sahabat yang dimuliakan dan dikenal generasi muslim hingga sekarang. Namun ternyata tidak mudah menumbuhkan rasa cinta kita pada amal jama’i ini. Oleh karena itu, kita memerlukan cara-cara untuk menumbuhkannnya ( beberapa dikutip dari bukunya Anis Mattta, Dari Gerakan Ke Negara) . Pertama, kita harus menyadari bahwa manusia diberikan keterbatasan oleh Allah maka kita harus menghilangkan anggapan bahwa sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya dia tidak boleh merasa lebih besar dari strtegi jamaah. Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa kekeruhan jamaah lebih baik dari kemurnian individu. Sehingga kita dapat menyebut diri kita sebagai bagian dari pencapaian tujuan jamaah. Kedua, kita harus menyadari sebagai seorang muslim yang berkomitmen, kita harus berorientsi pada karya. Sehingga adanya penyikapan tersebut dapat menanamkan semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dengan begitu kecintaan kita pada amal jama’i ini akan terus bertambah sebanding dengan kontribusi yang kita berikan. Ketiga, agar kita merasakan cinta dari jamaah ini maka yang hendaknya kita lakukan adalah bekerjasama walaupun berbeda. Dengan adanya perbedaan tersebut malah seharusnya kita manfaatkan untuk saling mengisi antara kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain. Apabila ketiganya dipenuhi maka kceintaan pada amal jama’i ini akan tertanam dan membuat kita hidup sebagai bagian dari jamaah, dimana jamaah itu laksana himpunan daun-daun ynag terpola.

Mewarnai dedaunan yang terpola

“Sesungguhnya Allah mecintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka sperti bangunan yang kukuh.” (QS. Ash-shaf : 4). Dari ayat itu kita dapat mengartikan bahwa kecintaan kita dalam hidup berjamaah akan mendapat balasan keccintaan Allah kepada kita. Dan refleksi cinta yang diberikan Allah kepada jamaah itu adalah sebuah hasil kerja yang efektif , produktif dan efisien. Namun ternyata untuk mendapatkan refleksi cinta Allah kepada jamaah kita itu dibutuhkan sebuah usaha yang harus dilakukan jamaah untuk mencapainya. Secara makro ada 2 hal yang harus dipenuhi yaitu manusia dan sistem. Pertama, jamaah tersebut harus memiliki sebuah sistem yang universal, teguh terhadap pokok-pokok dan tujuannya, relative pada metode yang digunakan dan mampu mempertemukan antara kebenaran dan ketepatan yang oleh umat muslim dinamakan sistem syariah yang berpedoman pada Qur’an dan Sunnah. Kedua, jamaah tersebut harus diemban oleh manusia-manusia besar dimana Hasan Al Bana memberikan karakteristik manusia-manusia besar dalam jamaah itu dengan sebutan arkanul bai’ah yang terdiri dari Kepahaman, Kikhlasan, Amal, Kesungguhan, Pengorbanan, Keetaatan, Keteguhan, Kemurnian, Ukhuwah dan Kepercayaan. Jika sudah memiliki 10 karakteristik itu sudah cukup untuk membuat kita menjadi prajurit yang besar untuk mendukung jamaah ini. Sehingga jamaah ini mampu mencapai tujuannya dengan hasil kerja yang efektif, produktif dan efisien serta menjadi seperti dedaunan yang terpola dan terwarnai.

Rasulullah bersabda : “Tangan Allah atas al jamaah” (HR. At-tirmidzi)

Menikmati hiasan daun terindah

Ketika rasa cinta dan apa yang kita usahakan terhadapa amal jama’i ini dibalas dengan refleksi cinta dari Allah dikarenakan kita telah memenuhi syarat-syaratnya maka saat itulah kita akan mengenyam hasil hiasan indah daun-daun yang telah kita kumpulkan, kita susun polanya dan kita warnai dahulu. Dimana kita telah merasakan sebuah efektifitas, produktifitas dan efisiensi kerja secara amal jama’i. Cita-cita luhur yang diimpikan umat ini akan segera terwujud. Gelombang perubahan akan muncul dari setiap penjuru dunia ini. Mulai dari hal yang kecil yaitu perbaikan individu, lalu perbaikan rumah tangga muslim, perbaikan masyarakat, pembebasan Negara, kemudian berdirinya daulah islamiyah hingga pada tegaknya khilafah islamiyah atau bahkan umat islam ini telah mengemban amanah sebagai sang ustadziatul alam (pengelola alam semsesta ini ). Maka itulah hari-hari terindah yang dirindukan umat ini, dimana islam akan tegak di seluruh pelosok bumi tanpa cercahan fitnah. Dan itulah kemenangan di dunia yang paling besar. Dan hal itu telah menjadi sebuah ketetapn Allah sebagaimana firmannya : ”Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash-shaf : 9). Sedangkan Balasan kita sebagai individu yang selalu mencintai amal jama’i sebagai wujud ketakwaan kita kepada Allah ini adalah balasan yang menjadi tujuan terakhir kita yaitu haribaan mardhatillah dan kenikmatan surgaNya. Dan kita pun kan dimasukkan kedalam surgaNya secara berjamaah pula sebagaimana firman Allah : “ Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (QS. Az-zumar :73).

Dan itulah hasil yang akan kita nikmati sebagai balasan cinta kita dalam kebersamaan (jamaah). Sehingga kita termasuk jajaran orang-orang yang produktif melalui cinta.

Oleh: rizkiwicaksana | Desember 16, 2007

Pengorbanan or tadkhiyah

Andre Hirata (Ikal). Seorang remaja yang dibesarkan di sebuah daerah yang tidak begitu maju, Belitong. Ikal dididik dalam komunitas masyarakat yang sangat menjunjung nilai-nilai moral kehidupan. Bersama dengan kawan-kawannya, Arai, Jimbron, dan geng Laskar Pelangi, Ikal mengukir kehidupan dengan penuh perjuangan dan tentu saja plus pengorbanan. Ia rela menempuh jarak berkilo-kilo untuk menggapai impiannya bersekolah. Dan untuk mempertahankan hidup, bersama kedua temannya, Ikal pun tidak segan untuk menjadi kuli pelabuhan. Dan yang paling menakjubkan, mereka berhasil mewujudkan dream yang selama ini di angan-angan yakni kuliah di Perancis, dan keliling Eropa-Afrika. Ikal dan Arai mempertaruhkan segalanya atau mungkin bahkan jiwanya untuk itu. (Novel tetralogi Laskar Pelangi)Itukah pengorbanan..? Santiago Munez. Seorang pemuda imigran meksiko yang bertempat tinggal di Los Angles bersama ayah, nenek dan seorang adik. Santi memilik bakat luar biasa dalam bermain sepak bola. Kemampuan dribling yang ia miliki sungguh menunjukkan ciri khas sepak bola Amerika Latin. Impiannya adalah bermain di liga profesional. Santi dan keluarganya termasuk golongan strata bawah. Setiap hari ia membantu ayahnya menjadi tukang kebun keliling, dan ia juga nyambi sebagai pelayan di rumah makan Cina. Suatu ketika ada seorang ”pencari bakat” yang melihat skill Maradona dalam diri Santiago. Ia menawarkan untuk bermain di klub Inggris, Newcastle United. Hal ini membuat Santi menyiapkan segala sesuatunya, baik fisik maupun materi untuk menuju Newcastle. Meskipun impian Santi terhalang oleh ayahnya yang tidak suka sepak bola, ia terus korbankan waktu dan segala materi hanya untuk bermain sepak bola. Impiannya pun terwujud. Di Newcastle, ia menjadi pemain kunci kemenangan. Bahkan mengantarkan klubnya ke putaran final liga Champions. Namun, di tengah itu semua, kesuksesan Santiago dibayar mahal oleh meninggalnya sang Ayah. (Film GOAL).Itukah pengorbanan..? Uchiha Sasuke. Seorang ninja dari desa Hokage. Awalnya ia tergabung dalam sebuah tim bersama dengan kedua sahabatnya, Sakura dan Uzumaki Naruto. Mereka dibimbing oleh seorang murobbi ninja senior Kakashi. Sebagai sebuah tim, mereka menjalankan banyak sekali misi. Seiring berjalannya waktu, keterikatan ukhuwah mereka akhirnya pun terbentuk. Hingga datang sebuah peristiwa. Sasuke yang bertemu kembali dengan kakak kandungnya, Itachi, teringat dengan apa yang telah terjadi pada keluarganya di waktu ia kecil. Saat itu, oleh Itachi, seluruhnya dibantai tak tersisa, termasuk orang tua Sasuke. Bermaksud membalas dendam kepada Itachi, Sasuke rela mengorbakan apa saja asalkan ia mendapat kekuatan besar untuk membunuh Itachi. Termasuk meninggalkan timnya. (Serial komik Naruto)Itukah pengorbanan..? Ikhwah fillah, Segala pengorbanan yang kita ukir dalam hidup ini memiliki arti dan maksud tersendiri. Pengorbanan terhadap sesuatu impian yang ingin kita raih, impian yang telah lama diidamkan, impian yang akan merubah hidup kita, bahkan juga mungkin kehidupan orang lain. Pengorbanan ini sering dilakukan oleh manusia yang memiliki naluri tinggi. Jika di tawarkan kepada manusia ini, sebuah perjalanan ke bulan, mungkin dia akan menolaknya. Karena dia punya keinginan untuk pergi ke galaksi lain, tidak sekedar ke bulan. Apapun risikonya.

Pengorbanan untuk orang-orang yang berharga dalam hidup kita, orang-orang itu begitu berarti dan memiliki cerita klasik yang di mana ketika cerita itu diputar kembali, semangat untuk berkorban itu pun akan kembali berkobar. Pengorbanan ini membutuhkan sebuah perasaan yang bisa menggerakkan hati. Salah satunya adalah perasan memiliki (sense of belonging). Meskipun hati terluka dan remuk, demi orang yang paling dikasihi, rasa itu menjadi selezat ice cream connello rasa black forrest.

Pengorbanan yang lain yang tak kalah mengesankan adalah pengorbanan untuk mempertahankan hidup. Sebuah pengorbanan dalam rangka memperpanjang waktu paruh (T1/2) kehidupan di dunia. Ini barangkali pengorbanan dengan nilai taruhan tertinggi, karena tak lain dan tak bukan nyawa adalah yang akan menjadi pengambil keputusan, mati atau tetap hidup, meskipun nantinya akan mati. Ada banyak pengorbanan lain yang memiliki corak warna dan variasi tersendiri. Yang membedakannya adalah visi, apa yang dikorbankan dan dengan cara apa pengorbanan itu berlangsung. Visi Nabi Ibrahim kala itu, yakni ingin menjadi hamba Allah yang luar biasa tunduk dan patuh atas perintah-perintahNya. Yang dikorbankan tidak hanya sebuah nyawa Ismail kecil, namun lebih dari itu. Rasa cinta kasih yang menakjubkan kepada sang buah hati yang baru saja dicicipinya akan menjadi sebuah memori, hanya sebuah memori. Ikhwah fillah, kita berada pada segmen tersendiri di antara mozaik kehidupan ini. Segmen ini memiliki arti yang sangat penting. Jika segmen ini tidak terlengkapi dengan baik, mozaik kehidupan yang indah dan berpola tidak akan pernah bisa terwujud. Ibarat sebuah sel dalam jaringan tubuh. Kita berada pada bagian inti selnya. Ketika inti sel ini tidak menjalankan fungsinya dengan optimal, DNA/RNA yang diproduksinya pun tidak sesuai dengan fungsi metabolisme tubuh. Ini yang disebut dengan disease. Fatalnya, sel akan bermutasi dan potensial menimbulkan keganasan (cancer). Dan seperti yang telah terungkap di atas, kaplingan kehidupan yang kita pijak bersama-sama ini juga perlu yang namanya pengorbanan. Ya.., untuk merealisasikan agenda-agenda dakwah yang bejibun ini, kita butuh resep mujarab bernama sacrifice, At-tadhiyah, alias pengorbanan. Allah ta’ala berfirman,”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.(Al-Hujarat 15)Ikhwan wa akhwat fillah, tidak cukup dengan harta saja yang ”harus” kita korbankan untuk menggapai scudeto (kemenangan) dakwah ini, tapi jiwa kita juga dituntut untuk turut andil dalam kancah pengorbanan itu. Dan kedua pengorbanan itu hanyalah sebagian contoh dari pengorbanan-pengorbanan yang ada. Artinya, masih banyak kereta pengorbanan lainnya yang bisa kita tumpangi. Dan tentu saja menuju stasiun yang sama, yakni stasiun keridhloan Allah. Seorang ikhwah tidak akan pernah bisa sampai ke SMA 13 untuk mengisi mentoring tanpa ada bensin yang dikorbankan, tanpa keringat karena terik matahari, dan rela paru-parunya dimasuki CO (karbon monoksida) saat perjalanan. Be Smart yang begitu gempitanya tidak akan terlaksana jika panitia tidak memasang mental baja atas penolakan-penolakan sponsor, tanpa adanya kerelaan untuk meninggalkan kuliah, dan tanpa pengorbanan pulsa untuk menghubungi peserta, pembicara dan juri. Seluruh USC-crew tidak akan pernah bisa syuro di sekretariat andai kata tidak ada yang berkorban untuk mencarikan pinjaman uang demi menambal kekurangan biaya kontrakan.”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali ’Imron 142). Mungkin dari sini kita sepakat bersama bahwa, pengorbanan itu perlu atau bahkan harus, untuk meraih cita kita bersama. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah cara pengorbanan kita sudah benar?? Dan apa saja yang pantas kita korbankan untuk aksi teatrikal dakwah ini.?? Ikhwah fillah, mungkin halaman terberat dalam buku berjudul ”Contoh Pengorbanan Aktivis Dakwah” adalah pengorbanan kita untuk meninggalkan rutinitas atau kebiasaan duniawi kita yang tidak berorientasi pada stasiun ridhlo Allah. Berapa banyak dari kita yang masih asyik melestarikan hobi itu. Memang sangatlah susah merubah kemampuan menulis kidal menjadi kinan (menulis dengan tangan kanan). Tapi itulah rally hidup. Allah memberikan challenge kepada semua hambaNya untuk membedakan mana hamba yang gagal bersaing dan mana yang pantas dapat tiket masuk surga dengan fasilitas VIP. Pengorbanan kita untuk meninggalkan kebiasaan tadi akan melahirkan rasa manis pada iman kita. Seperti sabda Rasulullah, ”Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka ia telah merasakan manisnya iman. Tiga perkara itu adalah dia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain; mencintai orang lain hanya karena Allah; dan tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan kepada api (neraka).” (HR.Bukhari) Selanjutnya, bensin yang bisa menggerakkan gerbong kereta pengorbanan ini hanyalah Jihad atau kesungguhan. Berikut ada petikan tulisan dari Fathi Yakan dalam bukunya yang berjudul ”Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam”n Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang pipinya terluka ketika diterpa embusan angin dan jari jemarinya berdarah ketika tersentuh sutra. Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang takut dengan rizki dan nasibnya esok hari. Jalan yang tidak akan sanggup ditempuh oleh orang yang memiliki watak keras kepala, suka mengikuti nafsu, tidak lapang dada dan lemah. Tidak sabar dengan satu kata yang menyakitkan apalagi ancaman. Pikirannya tertutup dan tidak banyak mengerti, namun dia tidak mengerti kalau dirinya tidak mengerti. Begitu pula dengan orang yang sulit menerima pendapat yang diputuskan bersama dan enggan mengikuti pendapat jamaah. n Itulah jalan penyucian diri, menahan diri dan membersihkan diri. Jalan kasih sayang dan kepedulian. Jalan kesabaran dan keteguhan. Jalan totalitas dan kemuliaan. Jalan ketulusan dan keikhlasan.n Jalan yang memiliki karakteristik seperti ini mustahil dapat ditempuh, kecuali orang-orang beriman yang hatinya selalu tergantung kepada Allah dan jiwanya melihat kepada Dzat Yang Maha Esa.Ikhwan wa akhwat fillah, itulah jalan yang butuh kesungguhan, keteguhan dan keseriusan tak terkecuali keseriusan untuk berkorban. Pengorbanan yang kita lakukan atas orang-orang yang berharga dalam hidup. Di jalan dakwah ini, kita rela berkeringat, menangis dan bahkan berdarah untuk orang-orang yang kita cintai. Binaan-binaan di halaqoh kita, adik-adik di SMP-SMA kita, teman-teman seperjuangan di Gubeng Kertajaya, dan jangan lupa, keluarga kita. Orang tua kita, kakak-adik kita, suami/istri kita nantinya, anak-cucu kita. Mereka semua harus merasakan hasil manis dari pengorbanan kita. Sebagaimana rasa cinta Muhammad SAW kepada umat yang diekspresikannya hingga menjelang beliau wafat. Hasil manis dari ekspresi itu tentunya masih kita rasakan hingga detik ini. Karena apa..Karena kita adalah umat beliau, karena kita adalah saudara beliau. Lebih dari sekedar sahabat. Itulah tingkatan energi cinta yang dasyat dari putra Abdullah. Energi itu akan terus kekal hingga nanti kita bertemu. Ikhwah fillah. Di jalan pengorbanan, kita berbuat atas segala alasan mengapa kita harus mengarungi jalan itu. Di sana, kita juga memiliki impian yang tak kalah menegangkan dengan mimpi Ikal dan Arai untuk mengarungi Eropa-Afrika, tak kalah besarnya dengan Santiago Munez untuk bermain di Newcastle United, dan tak kalah dramatisnya dari hasrat Sasuke bertemu dengan kakaknya, Itachi. Kita semua pasti berangan ingin bisa menyeberangi Sidratul Muntaha dengan sukses, kita semua pasti berkeinginan untuk bisa bermain di surga Allah dan kita semua pasti memiliki impian besar bertemu dengan Allah dan RasulNya di hari akhir nanti. Benar ikhwah fillah, kita juga harus memiliki dream yang menakjubkan. Sebuah alasan mengapa kita harus berkorban di jalan ini.Ikhwah Fillah Rahimakumullah,,..Selamat bekerja keras. Selamat Berkorban.Wallahualam bi Showab.(Fzl)

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.